Saturday, December 1, 2012

Dunia Tak Akan Indah, Tanpa Seorang Vincent Van Gogh

“Betapa saya dimata orang merupakan suatu nol besar,
orang yang tidak cocok untuk segala hal”

Demikian tulisan Vincent dalam salah satu surat kepada adiknya, Theo. Vincent van Gogh adalah seorang  pelukis aliran pasca-impresionisme Belanda.
Nama lengkapnya Vincent Willem Van Gogh, lahir pada tanggal 30 maret 1953, di Zundert, Belanda.

Kisah hidupnya yang jauh dari kebahagiaan  serta penuh penderitaan membuat ia mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri ini, menarik keingintahuan banyak orang tentang kehidupan Vincent Van Gogh,  dibalik karya  lukisan indahnya. 

Dimasa muda, Van Gogh  pernah bekerja pada sebuah perusahaan penjual karya seni, juga  bekerja sebagai seorang guru, ia melayani sebagai misionaris yang bekerja di wilayah pertambangan yang sangat miskin.
Ia memutuskan menjadi seorang seniman  pada tahun 1880, tepatnya saat ia berusia 27 tahun. Van gogh yang merasa gagal dalam segala hal menyadari bahwa melukis adalah panggilan hatinya.

Pada awalnya, Van Gogh adalah seorang pelukis figur model, walau untuk itu dia harus menghabiskan banyak uang untuk membayar mereka. Keterpurukan karena tidak memiliki uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan melukis tidak membuat Van Gogh goyah. Nasehat untuk mengganti model lukisannya turut memenuhi pergelutan batinnya.

Sampai suatu hari dia melihat sebuah lukisan karya Mauve dengan sebuah tulisan filosofis di bawahnya, “Menahan derita dengan tegar, hanya itulah yang bisa dilakukan, sebuah ilmu yang agung, pelajaran yang patut disimak, solusi bagi masalah dalam kehidupan”.
Tulisan itu membuat Van Gogh merasa  bahwa Mauve telah mengajarinya bagaimana menahan setiap terpaan dengan penuh kesadaran. Ia  tetap bertekad menjadi seorang pelukis, walau  kariernya sebagai pelukis tidak mencukupi kebutuhan hidupnya, dan ia terpaksa hidup miskin dan bergantung kepada sang adik, Theo Van Gogh.

Lukisan Van Gogh  pada mulanya menggunakan warna-warna suram. Baru ketika di Paris ia berjumpa dengan impresionisme  dan neo-impresionisme  yang warna-warnanya  lebih cerah dan gaya lukisannya dikembangkannya menjadi sebuah gaya yang unik dan mudah dikenali.  Cara Van Gogh  melukis langsung berhadapan dengan objek lukisan yang menjadi dasar titik tolak bagi seninya, kemudian dikembangkan  dengan impresionisme, suatu aliran dalam seni lukis yang menguasai dunia barat pada waktu itu. Pengembaraan Van Gogh ke Arles, Prancis  membuat gaya lukisannya semakin berkembang.
Akan tetapi,  ketidakpuasan terhadap pengekangan ekspresi seni oleh pakem impresionisme membuat ia beralih pada gaya ekspresionisme.
Namun, ia menyadari juga bahwa ia tidak memiliki kecekatan menggambar yang dipandang sebagai syarat utama yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pelukis yang baik.
“Mengapakah saya tidak dapat melukis dengan lancar?” demikian pernah ia kemukakan dalam salah satu suratnya kepada sang adik.

 Temperamennya yang murung dan mudah tersinggung, dan kekakuannya, mengakibatkan kekurangmampuan untuk dapat mengikuti perkembangan secara konvensional-akademis. Menyebabkan ia kurang mendapat tempat dimasyarakat.
Hal itu berbanding lurus dengan  karier Van gogh saat itu. Dari banyak karya yang dihasilkan olehnya dan sepanjang hidupnya ia hanya berhasil menjual satu buah lukisan saja.

Kepada Theo, Van gogh sering mengirimkan surat menceritakan segala keluh kesah juga karya-karyanya.  Kebanyakan suratnya menceritakan hampir  semua karya yang dibuat. Seperti pentingnya peranan warna baginya  dalam mengungkapkan ekspresi : 

Pada suatu malam saya berjalan-jalan disepanjang pantai yang kosong. Hari tidak cerah, tetapi pun tidak muram, cuaca indah sekali.
Warna biru langit yang pekat dengan awan yang berarak, adalah lebih dalam dari pada warna biru kobalt yang pekat, sedang sebagian lagi warnanya lebih cerah, seperti biru keputihan Bima Sakti. Didalam kebiruan yang pekat, bersinarlah bintang dengan warna kehijau-hijauan ,kuning, putih, ungu muda, lebih cemerlang, lebih berkilauan daripada yang saya lihat di rumah- bahkan di Paris : mungkin kau menyebutnya pirus, jamrut, manikam, merjan, angkik. 

Laut adalah biru ultramarine yang pekat, - pantainya adalah semacam ungu yang sedikit kelam, seperti yang saya lihat, dan di bukit-bukit pasir……..beberapa semak, biru prusia.
( Les Saintess-Maries, 116 )

Warnanya mengesankan udara yang dashyat musim panen ditengah matahari terik, dengan panas yang membara. Alam sekitar Arles semarak dalam warna kuning dan bungur,…suatu deretan warna-warna kuning sampai jingga…….
Akan tetapi, pelukis masa depan, adalah seorang ahli warna seperti sekarang yang belum ada.
( Arles, 1888, 482 )

Rasa keputusasaan dan usahanya mengatasi kekakuan dalam dirinya, serta karier yang buruk membuat Van Gogh benar-benar terpuruk, ditambah dengan penyakit yang dideritanya. 

Vincent Van gogh didiagnosa menderita epilepsi yang cukup parah. Diagnosa ini dibuat oleh 2 orang dokter berbeda yang merawatnya. Ia  juga pernah memotong telinganya sendiri saat ia tinggal bersama  dengan Paul Gauguin, salah seorang sahabat Van Gogh  sekaligus pelukis yang sealiran dengannya. 

Perbuatannya itu kemudian membuat penduduk Arles, daerah tempat ia tinggal, menyebutnya orang gila dan memasukkannya ke Rumah Sakit Jiwa St Paul -de-Mausole di Saint-Rémy-de-Provence, Perancis.  Di rumah sakit itulah kemudian Van Gogh  menghasilkan banyak mahakarya yang cukup terkenal.

Di tahun 1890, Van Gogh pindah ke Auvers, dimana ia di rawat oeh Dr. Paul Gachet, seorang dokter homeopati dan pecinta seni.  Mereka segera menjadi  teman akrab, Van Gogh merasa Gachet adalah teman sependeritaan yang sama-sama mengalami gangguan jiwa yang telah lama diderita nya.  Gachet meminta Van Gogh  untuk melukis dirinya dan mungkin merefleksikan karakter Vincent pada modelnya sendiri .  

Ekspresi Gachet yang tampak baik, penuh belas kasih, dan melankolis  jelas memberi petunjuk mengapa Van Gogh menganggap nya sebagai seorang teman yang simpatik.
Hanya sebulan setelah menyelesaikan  lukisan Dr.Paul Gachet,  Vincent van gogh akhirnya meninggal bunuh diri,  setelah semua usaha sang dokter untuk  menyembuhkannya, ternyata tak mampu mencegah Vincent dari  rasa keputusasaan .
Dalam surat terakhirnya kepada Theo, ia  mengungkapkan bahwa,
 “ sesungguhnya kita hanya dapat menyerahkan lukisan berbicara untuk kita”
 Ia juga  banyak mengungkapkan sendi-sendi seni dirinya maupun seni modern-pada umumnya.
………………….Saya tidak melihat jalan lain selain bekerja dengan model : dengan sendirinya orang tidak boleh memadamkan daya ciptanya, akan tetapi justru dengan selalu berhadapan langsung dengan alam, dan bergulat dengannya, daya cipta dibangkitkan dan dibuatnya lebih  cepat.
( Den hag, 1882) surat no.38

Ironisnya,  lukisan yang diberi judul “ Potrait of Dr.Gachet”,  saat ini, menjadi lukisan termahal didunia urutan ke-4, dengan harga US$ 144,1 juta  atau setara dengan 1,239 trilyun dengan kurs Rp 8600, sungguh harga yang fantastis!

Setelah  semua penderitaan yang dialaminya, dan karyanya yang tidak begitu dihargai di zamannya, Vincent Van Gogh  mengajari kepada kita,  bagaimana untuk yakin pada kemampuan  yang kita miliki,  dan apa yang menjadi panggilan hati kita, walau jalan yang kita pilih terkadang penuh dengan rintangan. 

Seperti Van Gogh yang rela   memilih menahan penderitaan  tanpa harus bersikap murka kepada orang-orang yang tidak menghargai ia dan karyanya.  Jiwanya yang penuh kasih juga lembut dapat kita rasakan lewat sentuhan-sentuhan warna pada lukisannya.
Karya-karya Vincent kini telah menjadi terkenal, mendunia, juga paling mahal. Bukan hanya lukisan dan gambar bahkan sejumlah suratnya yang terhimpun (482 buah ) dibuku kan menjadi sebuah buku berjudul  “Lust For Life” karangan Irving Stone  dan   menjadi dokumentasi berharga dalam  perkembangan seni modern dan mempunyai  kadar literer.

Vincent telah menjadi inspirasi banyak orang.  Sanjungan , pujian, penghargaan,  ia telah mendapatkannya, walau belum sempat ia lihat hasil dari kerja kerasnya, atau  berdiri  di atas sebuah panggung serta mendengar sebuah applause  orang-orang untuk dirinya.

Kita juga dapat menemukan  dan melihat koleksi karya-karyanya yang tersimpan rapi di sebuah museum yang terletak di Amsterdam, Belanda. Museum Van Gogh, itulah nama museum tersebut yang didedikasikan  untuk karya-karyanya.  Konon, museum ini  menyimpan koleksi terbesar Van Gogh dan menjadi salah satu museum di dunia yang sering dikunjungi oleh wisatawan baik dari dalam maupun luar negri.
Now I am understand
( sekarang, aku mengerti )
What you tried to say to me
( apa yang kamu coba katakan padaku )
And how you sufferd for your sanity
( dan betapa menderitanya dirimu untuk kesehatanmu )
And how you tried to set them free
( dan bagaimana kamu coba tuk membebaskan mereka )
They would not listen ( mereka tidak akan mendengar )
They did not know how ( mereka tidak tau bagaimana menderitanya dirimu )
Perhaps they listen now….( berharap mereka mendengarkan sekarang )
For they could not love you ( bagi mereka yang tidak mencintaimu )
But still your love was true ( tapi..cintamu adalah sejati )
Andwhen no hope was left inside ( dan disaat tidak ada harapan yang tertinggal )
On that starry-starry night ( pada kerlap-kerlip bintang malam )
you took your life as lover often do  ( kamu  letakkan hidupmu sebagai seorang pecinta, betapa seringnya )
But I could told you Vincent, ( tapi, aku dapat mengatakan padamu Vincent )
This world was never meant ( dunia ini tidak pernah sangat indah)
for one beautiful as you ….( bagi seseorang  seperti dirimu )
                   Vincent ( stary-stary night ) – Josh Groban

Dan benar, seperti lirik lagu diatas, dunia ini tak akan indah tanpa seorang yang bernama Vincent Van Gogh….
 Kini Vincent  tersenyum diatas sana melihat kita mengangumi karyanya……

Beberapa karya lukisan Vincent : 



 





Lukisan – Lukisan Karya Van Gogh
+ Merupakan lukisan yang mencapai rekor nilai penjualan tertinggi.
Sumber :
·         Rodway, Juliet. The Little Book of Impressionist Jilid 2, Suatu Seleksi Lukisan Impresionis Terbaik. 2000. PT: Elex Media Komputindo,. Jakarta.
·         Iskandar, Popo. Affandi, Suatu Jalan Baru Dalam Ekspresionisme. 2000. PT.Dunia Pustaka Jaya. Jakarta. 











 

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi blog saya...
silahkan tinggalkan komentar anda, yang berhubungan dengan artikel yang dibahas.
No sara / pornografi.

Popular Posts

Favorite

Langitanisa's bookshelf: read

Naruto, Vol. 01: The Tests of the Ninja
Love in the Time of Cholera
Lust for Life
The Mysterious Howling
Misteri Lemari Antik
Absolute Boyfriend, Vol. 01
Famous Five 16: Five Go To Billycock Hill
With This Ring
Warm Bodies
Christmas Stories
Golden Book
The Invention of Hugo Cabret
The Five Orange Pips
Death Note, Vol. 7: Zero
Death Note, Vol. 1: Boredom
Death Note, Vol. 5: Whiteout
Death Note, Vol. 8: Target
Bleach Volume 01: Strawberry and the Soul Reapers
Death Note, Vol. 2: Confluence
A Study in Scarlet

Kabarlingga.com