Friday, December 14, 2012

Istana Asa, Dongeng Ibu dan Camar


Part 1
Dongeng yang ibu ceritakan dimalam ini sungguh berbeda, biasanya ibu menceritakan dongeng tentang serigala dan si kerudung merah, kancil yang cerdik, atau si cantik dan si buruk rupa, atau juga  tentang joko kendil. Dongeng ibu kali ini berbeda….ya sesuatu yang baru kudengar pertama kali, tidak seperti biasanya.

Ibu bilang kepadaku bahwa di dalam hati kita ada sebuah istana.  Istana yang bernama cinta. Aku baru mendengarnya, apa mungkin istana itu diperintah oleh seorang raja dan permaisuri seperti dongeng Cinderella yang pernah kudengar?


“Istana ini sangat istimewa, sehingga ia tidak dipimpin oleh seorang raja atau permaisuri”, begitu kata ibu,
“benarkah,bu?”
“ya,sayang, ….dan kamu  adalah pemilik istana itu” ibu menatapku dengan wajah lembutnya.
“aku bu?”
“ya…” , ah..ibu memang cantik saat tersenyum, tapi aku tidak mengerti maksud ibu. Lalu, ia mendekapku dengan pelukan hangatnya, menatap mataku lekat-lekat,,telunjuk ibu menyentuh tepat didadaku, sambil setengah berbisik, ibu bilang….
“istanamu disini, nak..”

Itu adalah kata-kata yang aneh, yang tak kumengerti, apa mungkin kata-kata itu adalah mantra yang bisa membuatku meminta segalanya, seperti permen, kue, boneka, atau  pakaian yang bagus?

“ibu, kenapa di dadaku ada istana? “
“karena .. hatimu itu laksana sebuah istana nak, jika hatimu dipenuhi dengan kebaikan, istana itu akan berdiri kokoh..jangan sampai ia roboh, dikarenakan  hatimu dipenuhi dengan keburukan”
Jika nanti hatimu telah mengenal cinta, berhati-hatilah anakku, kadang istana yang begitu indah bisa runtuh seketika,..
“kenapa, bu..apakah cinta itu seperti angin topan bu?”
 Mungkin bisa seperti itu, cinta bisa menjadi serigala nak
“itu  membingungkan bu…, lebih baik aku tidak usah mengenalnya bu” jawabku seenaknya.
“kalau begitu, kamu tidak akan pernah  mengetahui rasanya?”
“Apakah manis seperti permen bu atau seperti coklat?” aku jadi membayangkan dua makanan kesukaan tersebut,
“cinta itu rasanya bisa manis seperti permen, atau pahit seperti obat.” Terang ibu padaku.

Aku tidak suka minum obat, rasanya pahit sekali. Aku ingat, dulu aku demam, ibu memintaku untuk meminum obat tersebut. Ku kira rasanya manis, ternyata pahit hingga aku ingin memuntahkan nya. 

“Apakah cinta itu seperti ibu yang menyayangiku?”
“ya…, itu cinta “
“tapi nak….suatu saat nanti kamu akan mengerti apa itu cinta. Hati-hatilah dengan hatimu nak saat ia datang..”
Lamat-lamat  kudengar suara ibu disela  tidurku……..
                           bersambung............................



No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi blog saya...
silahkan tinggalkan komentar anda, yang berhubungan dengan artikel yang dibahas.
No sara / pornografi.

Popular Posts

Favorite

Langitanisa's bookshelf: read

Naruto, Vol. 01: The Tests of the Ninja
Love in the Time of Cholera
Lust for Life
The Mysterious Howling
Misteri Lemari Antik
Absolute Boyfriend, Vol. 01
Famous Five 16: Five Go To Billycock Hill
With This Ring
Warm Bodies
Christmas Stories
Golden Book
The Invention of Hugo Cabret
The Five Orange Pips
Death Note, Vol. 7: Zero
Death Note, Vol. 1: Boredom
Death Note, Vol. 5: Whiteout
Death Note, Vol. 8: Target
Bleach Volume 01: Strawberry and the Soul Reapers
Death Note, Vol. 2: Confluence
A Study in Scarlet

Kabarlingga.com