Sunday, February 10, 2013

Catatanku : Sebuah Ruang Milik Kita





Saat ini mungkin kamu telah lupa bahwa kita pernah bersahabat,
tetapi yang perlu diingat adalah dunia ini akan selalu menuliskan isi dari setiap detik persahabatan kita.

Sahabat ibarat warna yang ada pada pelangi, saat apapun akan terasa indah tetapi saat hilang akan terasa sakit.
- Kutipan-

Hai… apa kabar mu?
Itu adalah kalimatnya yang pertama saat ku kenal dengannya. 
Ku jawab sapaannya, dan berpikir, mungkin ia orang yang cukup menyenangkan untuk ku ajak bicara.
Kata-katanya begitu sederhana,   Ia  tanpa sungkan menjelaskan dimana ia tinggal. Aku pikir ia seseorang yang aneh, kenapa baru beberapa menit saja ia berkenalan denganku, ia begitu dengan senang hati menjelaskan tentang dirinya. 


Ok. Dugaanku  ia hanya akan sekali saja mengajakku chating, dan mungkin tidak  tertarik lagi berbincang denganku.  Namun, semua dugaanku salah, malam nya begitu aku online , layar chatting nya pun telah menyapaku.
Obrolan demi obrolan pun mengalir begitu saja, detik berlalu hingga berjam-jam tanpa terasa kami habiskan dengan berbicara segalanya. Lambat laun kami jadi akrab. Aneh, aku bisa mempercayainya dan ia mempercayaiku.

Aku tidak tahu mengapa aku merasa ia sangat mempercayaiku, hingga ia selalu menceritakan tiap kejadian yang telah ia alami. Kejadian hari ini, lusa, atau apa yang kan dilakukan besok.
Aku selalu mendengarnya, itu adalah sesuatu  yang menyenangkan sekaligus  menyebalkan bagiku. Tapi aku tak bisa mengatakannya, aku memahami bahwa ia begitu tertekan dengan keadaan disekitarnya. 
Ia  butuh untuk didengarkan.
Hanya saja..aku juga ia ingin mendengarkanku.

Ia selalu menungguku kapan aku akan online.
Bahkan rela menungguku selama 2 jam.
Lalu menyapaku begitu cepat dan hangat.
Aku merasa bersalah membuatnya seperti itu, tapi..ia sama sekali tidak marah.

Semakin dalam aku mengenalnya, semakin aku mengerti dia sedikit demi sedikit.
Ia begitu egois, terus terang juga kekanak-kanakan. 
Di sisi lain, aku terkadang tidak memahami  apa yang ia pikirkan.  Aku sulit untuk menjangkau apa sebenarnya yang ia inginkan. 
Jika sudah begitu aku merasa seperti tak berdaya, menyerah untuk mencari kata-kata yang akan bisa menyelamatkan perbincangan kami. Kalau kata-kata sudah habis, maka kami akan saling diam, berbincang hanya beberapa kata.

Terkadang kami bertengkar juga. ...
Sama-sama mempertahankan ego kami, namun itu tidak lah menjadi  sebuah pertengkaran hebat.
Harus ada salah satu yang mengalah…
Ia sangat ahli dalam membujukku. Bujukannya sangat halus hingga aku tidak menyadari bahwa ia berhasil mendapatkannya, sesuatu yang bersifat pribadi tentang diriku.

Aku tidak bisa membohonginya, jika ia menanyakan sesuatu tentang diriku. Sungguh tidak bisa.
Bagaimana mungkin aku bisa berbohong padanya yang telah begitu mempercayaiku bahkan mengizinkan ku untuk mengenal orang-orang disekitarnya?
Mungkinkah orang-orang berpikir aku berlebihan sekali kepadanya, padahal ia adalah orang yang tak ku kenali sama sekali ?
Ah..aku tidak tahu. Yang ku tahu saat ku berbicara padanya ia membuatku nyaman.

Waktu bergulir…hanya kami, ruang kami, dunia kami walau berbatas waktu juga tempat tak menghalangi pertemanan kami.
Ia menceritakan hobinya, keluarganya, masa kecilnya, hewan peliharaannya, segala tentangnya…
Apa yang membuatnya bahagia,
Apa yang membuatnya begitu sedih…
Juga wanita yang  tengah dekat dengannya.

“Apakah kamu disana?”
Ia selalu menanyakan hal tersebut saat ku terlambat untuk online.  Perbedaan waktu di tempatnya membuat kami sering terlambat untuk tidur malam.
“Sekarang jam berapa ditempatmu?” tanya ia kepadaku
“jam 10, ditempatmu?”
“sekitar jam 1 pagi”
Aku tak menyangka, dia betah untuk berbicara denganku. Kenapa ia tidak mengatakannya bahwa  ditempatnya sudah begitu larut malam. Bukankah ia butuh istirahat.
Aku cepat meminta maaf jika aku telah mengganggunya serta menyarankan kepadanya untuk segera ia tidur.  Sebaliknya, ia  menyuruhku untuk tidur lebih dahulu.
Ku katakan tidak bisa, ia harus tidur lebih dulu, ia masih mempertahankan pendapatnya bahwa akulah yang harus segera tidur.  Akhirnya,  kami saling memperdebatkan siapa yang harus  pergi  untuk tidur pertama kali.  Kami hanya saling tertawa, karena sulit sekali untuk mengakhiri malam itu, dan mengucapkan selamat malam, moga mimpi indah. Kami mengulurkan waktu, hingga akhirnya saling menyerah.

“Apakah aku begitu membosankan?”
“Tidak, kamu tidak membosankan, kamu sungguh teman yang baik,” aku ingat jawabannya yang begitu tulus atas kekhawatiran diriku padanya. Aku takut ia akan bosan padaku ketika aku sudah terbentur  pada perasaannya yang terlalu sensitif.  Aku harus menjaga perasaannya.  

Ada awal, pasti juga ada akhir……………………………
Begitu juga dengan kisah kami, sebuah akhir tengah menanti. Itu tergantung pada kita, mau seperti apa membuatnya. Manis atau pahit. Suka atau duka. Gelap atau terang. Itu pilihanmu.
Ia lebih memilih dengan caranya sendiri. Sebuah  cara sulit untuk ku lepas darinya. Bukan untuk melupakannya.

Waktu perbincangan kami mulai berkurang.  Pesannya tidak pernah ada lagi di kotak masuk. Sesekali ia datang menyapaku, namun itu tidak pernah sama seperti dulu lagi. Tidak akan sama.  

Aku kah yang telah membuat perasaannya berubah?
Atau ia yang telah membuat perasaanku berubah padanya?
Sampai sekarang jawabannya belum kutemukan. 

Aku berharap ada sebuah keajaiban yang bisa memperbaiki hubungan pertemanan kami. Namun yang datang adalah semburat pelangi di langit senja.
“ temanku tersayang….
Mungkin ini adalah terakhir kalinya aku bisa berbincang denganmu, sebentar lagi aku akan menikah, doakan aku bahagia untuk selamanya…”
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Hatiku bagai sebuah titik –titik ketika mendengarnya.
Butuh untuk berhenti sejenak. Lalu melanjutkannya. Tentu, aku akan mendoakannya, tentu saja. 
Aku ingin ia bahagia.
Aku bahagia mendengar bahwa ia akan menikah, sekaligus takut.
Mengetahui  bahwa nanti tidak akan ada lagi malam-malam kami yang diisi dengan perbincangan kami.
Tidak ada lagi seseorang yang menungguku lagi….
Mengasihiku….
Menjagaku…
Mengkhawatirkan diriku…

Tetapi…..
Aku  begitu bersyukur telah diberikan waktu  selama itu  untuk mengenalnya, memilikinya sebagai  seorang teman, juga memberiku banyak tawa juga kebahagiaan.
Aku tidak mengerti bagaimana ia menempatkan diriku di matanya, dihatinya.
Dalam tiap ucapan ada batas yang tak ingin masing-masing kami langgar, kami pertahankan, dan tak ingin kami buka rahasia itu.

Segala kebaikannya selalu kurasakan.
Saat ia menghiburku dengan ucapannya,
”Siapa yang membuatmu terganggu?”
“Ayo..tersenyumlah..”
“Apa yang kamu inginkan, …”
“Aku sedang menatap fotomu…”
“Tolong ganti foto profilmu, aku lebih suka melihatmu natural..” waktu aku mengganti foto profilku dengan foto kartun.
“Aku tahu ini kedengarannya menyakitkan untukmu, tapi jangan dibahas lagi tentang foto profilku, maafkan aku….”

Ya…sampai sekarang kamu tidak pernah menunjukkan foto  dirimu yang sebenarnya.
Apakah kamu telah membohongiku, teman?
Lalu kemana rasa luka ketika seseorang merasa dibohongi itu?
Aku tidak merasakan luka, tidak ada luka.
Andai …semua cerita darimu adalah sebuah kebohongan, kebohonganmu telah membuatku merasa bahagia memiliki seorang teman yang begitu baik , begitu sopan, serta mengasihiku.
Ia sangat manis…..manis sekali,
melukis sebuah pelangi dihatiku,
memahat segaris senyum diwajahku.
***
Teruntuk temanku tersayang,
tanpamu tak akan ada cerita ini untuk ku tulis sebagai sebuah kenangan indah dan berarti.
Dimanapun kamu berada…...












2 comments:

  1. Menarik...

    Dan saya ingin usul, kalo bisa tataletak sebelah kanan dirapikan/disesuaikan karena peliharaan anda (my pets) ukurannya terlalu besar jadi keluar dari kotak tataletak. Atau kalau tidak di hapus saja agar loading blog lebih enteng. agar SEO

    ReplyDelete
  2. Arief Budiyanto : terima kasih atas masukkan nya, akan saya perbaiki lagi kolum my pets saya, maklum masih pemula..terima kasih atas kunjungannya..^^

    ReplyDelete

Terima kasih telah mengunjungi blog saya...
silahkan tinggalkan komentar anda, yang berhubungan dengan artikel yang dibahas.
No sara / pornografi.

Popular Posts

Favorite

Langitanisa's bookshelf: read

Naruto, Vol. 01: The Tests of the Ninja
Love in the Time of Cholera
Lust for Life
The Mysterious Howling
Misteri Lemari Antik
Absolute Boyfriend, Vol. 01
Famous Five 16: Five Go To Billycock Hill
With This Ring
Warm Bodies
Christmas Stories
Golden Book
The Invention of Hugo Cabret
The Five Orange Pips
Death Note, Vol. 7: Zero
Death Note, Vol. 1: Boredom
Death Note, Vol. 5: Whiteout
Death Note, Vol. 8: Target
Bleach Volume 01: Strawberry and the Soul Reapers
Death Note, Vol. 2: Confluence
A Study in Scarlet

Kabarlingga.com