Thursday, March 21, 2013

Nasiruddin Hoja Melawan Kelicikan



Suatu hari Nasiruddin Hoja mengukur jalan alias jalan-jalan menyusuri  kota  untuk memenuhi hasrat dan hobinya.
Tapi..malangnya, tiba-tiba dari arah belakang ada orang yang menampar pipinya,..Plak..
Aduh! teriak Nasiruddin spontan, akibat kesakitan.
Ada apa ini? tanya Nasiruddin marah, dengan rasa penasaran setengah mati.

Maafkan aku. Aku kira anda teman akrabku yang sudah lama tak ku jumpa, Kata  lelaki setengah baya itu.
Akrab boleh  akrab, tapi jangan semaunya menampar dengan akrab juga,kata Nasiruddin cemberut, dan bersungut-sungut.

Nasiruddin tampaknya tak mau menerima maaf begitu saja dari pria asing di hadapannya. Namun, ia pun tak mungkin melakukan qisas alias balas memukul, karena ia bisa kena sanksi hukum dari aparat penegak hukum. Oleh karena itu, Nasiruddin menempuh jalur hokum, mengadukan lelaki itu ke pengadilan. 

Assalamualaikum, kata Nasiruddin sesampai di kantor pengadilan, saya ingin melaporkan sebuah persoalan,lanjutnya kemudian.
Berikutnya, Nasiruddin menjelaskan akar perkara mulai dari  A sampai  Z sesuai fakta, apa adanya tanpa ditambah-tambahi. Sebagai penutup, Nasiruddin menandaskan bahwa ia meminta sebuah keadilan atas kezaliman yang telah dilakukan orang itu.

Ternyata, si hakim adalah sahabat si penampar Nasiruddin Hoja. Akibatnya, hakim berlaku tak adil dengan membebaskannya, dan tentu saja Nasiruddin protes atas keputusan pengadilan tersebut.

Akibat protes keras itu, hakim akhirnya membatalkan keputusan pertama, mengganti dengan keputusan kedua.
Kalau kamu tak puas atas keputusanku, maka aku tetapkan agar dia memberi ganti rugi sepuluh dirham tunai kepadamu. Kata hakim.
Sekarang pergi dan ambil uang sepuluh dirham  sebagai ganti untuk Nasiruddin ini,kata hakim kepada lelaki penampar itu.

Nasiruddin berjam-jam menunggu si lelaki untuk mendapatkan ganti rugi. Namun, 
yang  ditunggui tak kunjung datang. Akhirnya, sadarlah Nasiruddin bahwa ia telah ditipu oleh si lelaki dengan bantuan rekayasa pak hakim, yang membiarkan si lelaki pergi. Ketika melihat si hakim tenang-tenang saja, bahkan berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya, hati Nasiruddin  panas, juga dongkol.

Tiba-tiba,
Plak! Nasiruddin menampar pipi si hakim seraya berkata,
 Maaf pak hakim, aku sibuk sekali dan tak punya waktu untuk menunggu lebih lama lagi. Tolong nanti menerima ganti ruginya untuk Anda. Aku lagi terburu-buru.

Selesai berkata itu, Nasiruddin lantas pergi, sedangkan si hakim hanya menggosok-gosok pipi akibat perih di tampar Nasiruddin tadi.

Hikmah :
Berbuatlah adil dalam menimbang suatu perkara, dan tolong-menolonglah hanya di dalam berbuat kebaikan.

Sumber :
Mashad, Dhurorudin.2005.Seri Kisah Jenaka Sarat Makna Jilid 1.Jakarta : Erlangga.







No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi blog saya...
silahkan tinggalkan komentar anda, yang berhubungan dengan artikel yang dibahas.
No sara / pornografi.

Popular Posts

Favorite

Langitanisa's bookshelf: read

Naruto, Vol. 01: The Tests of the Ninja
Love in the Time of Cholera
Lust for Life
The Mysterious Howling
Misteri Lemari Antik
Absolute Boyfriend, Vol. 01
Famous Five 16: Five Go To Billycock Hill
With This Ring
Warm Bodies
Christmas Stories
Golden Book
The Invention of Hugo Cabret
The Five Orange Pips
Death Note, Vol. 7: Zero
Death Note, Vol. 1: Boredom
Death Note, Vol. 5: Whiteout
Death Note, Vol. 8: Target
Bleach Volume 01: Strawberry and the Soul Reapers
Death Note, Vol. 2: Confluence
A Study in Scarlet

Kabarlingga.com