Sunday, July 28, 2013

Kisah Dua Buah Kendi




Tersebutlah, seorang lelaki tua mempunyai dua buah kendi. Kendi itu biasanya ia gunakan untuk mengangkut air di sungai yang tak jauh dari rumahnya. Setiap pagi dan sore hari ia melakukan kegiatan itu.  


Namun, salah satu kendi tersebut  tidaklah seperti kendi satunya lagi. Karena setiap air yang dimasukkan ke dalamnya, air di dalamnya akan mengalir keluar. Rupanya, kendi itu sudah berlubang dibawahnya. Anehnya, sang lelaki tua tetap mempergunakannya.

Tiap lelaki tua itu mulai mengangkut air dari  sungai dan membawa pulang air di dalam kendi bocor tersebut, jumlah air di dalamnya tak utuh lagi.  Setengah dari jumlah air di dalam kendi itu sudah habis terbuang di perjalanan menuju rumah lelaki tua tersebut.

Pernah suatu ketika,  kendi satunya lagi mengatakan kepadanya, “ Kamu sungguh tidak berguna, lihatlah dirimu, sudah bersusah payah tuan kita mengambil air  untuk kebutuhannya. Lalu, kamu menumpahkannya begitu saja.” 

Sang kendi yang berlubang itu pun pernah mendengar, anak  dari lelaki itu mengejek dirinya,
“Kenapa ayah  masih menggunakan kendi bocor yang tak berguna itu? Kita bisa menggantinya dengan yang baru bukan?” sang lelaki tua itu hanya tersenyum  mendengar ucapan sang anak.

Bertambah sedih hati sang kendi, mendengar bagaimana tak berguna dirinya. Ia hanya sebuah kendi yang tak sempurna melaksanakan tugas untuk tuannya. Mungkin benar kata sang anak lelaki tua itu, ia sebaiknya diganti oleh sebuah kendi baru.  Pikir sang kendi dengan rasa  pasrah dan bermuram durja.

Pagi itu tak seperti biasa, sang anak di ajak lelaki tua itu menemaninya mengambil air.  Mereka berdua pun mulai menapaki jalan, dimulai dari menuruni tanjakan, melewati  padang rumput, sampai bertemu hamparan padang bunga, tampak  sang anak menikmati perjalanannya.


 Ia juga menemukan betapa banyak bunga-bunga yang mekar di kanan dan kiri jalan yang ia lalui. Sesekali ia berhenti dan mencium wangi aroma bunga-bunga liar itu.
Sang ayah diam-diam memperhatikan anak perempuannya yang sangat senang sekali pada bunga-bunga tersebut. 

“Apakah bunga-bunga itu  sebegitu menarik hatimu hingga  kamu tidak mendengar ayah memanggil namamu?” tanya lelaki tua itu sambil tersenyum menatap gadis kecilnya yang mulai beranjak dewasa. Anak perempuannya tertawa hingga tampak barisan gigi putihnya.

Ia berlari-lari kecil mendekati ayahnya yang sedang duduk di atas rerumputan. Di sebelahnya tergeletak dua buah kendi yang belum terisi oleh air.
“Tak semua hal yang tidak berguna di dunia ini, benar-benar tak berguna seperti yang kita kira, wahai anakku.” 

“Maksud ayah?”tanya anak perempuannya tak mengerti. Diam-diam kedua kendi di samping lelaki tua itu ikut mendengarkan pembicaraan antara ayah dan anak tersebut.

“Seperti daun-daun kering, sekilas kita pikir mereka tak berguna. Hanya sampah.  Sampai kita membuka mata hati kita untuk mengetahui  bahwa tak ada yang sia-sia di dalam  tiap ciptaan-Nya. Sekalipun seekor nyamuk.”

“ Sama halnya seperti kendi ini...” lelaki tua itu meraih kendi yang berlubang di sampingnya. Memperlihatkan pada anak perempuannya sebuah lubang berukuran uang koin di bawahnya. 



“Memang ia tak melaksanakan fungsinya dengan sempurna, ia selalu saja menumpahkan air yang  telah ayah  masukkan kedalamnya.” 

Sang kendi bocor itu hanya tertunduk malu mendengar ucapan tuannya. Namun usapan hangat dari sang tuan  di punggungnya membuat ia berpikir tuannya mengerti akan kesedihan dan penderitaannya selama ini ia rasakan.

“ Di balik kelemahan dan tak sempurna dirinya, ia mampu memberi manfaat serta rasa bahagia bagi kita juga mereka. “ tangan lelaki tua itu menunjuk ke arah hamparan bunga-bunga yang dikagumi anak perempuannya tadi.

Mata gadis kecil itu berbinar-binar mendengar penuturan ayahnya sejenak, ia kini mengerti mengapa ayahnya tetap mempergunakan kendi bocor itu meskipun ayahnya mampu untuk membeli sebuah kendi baru. Bagaimana air yang tumpah dari kendi bocor itu menyirami berbagai tanaman di sepanjang jalan yang  di lewati ayahnya. Serta ayahnya yang selalu membawa bunga-bunga itu sebagai penghias jambangan di rumahnya.
“Manusia serupa kendi bocor ini, tak sempurna dan tak akan pernah menjadi sempurna. 
Tapi kita bisa mengubah kelemahan kita menjadi sebuah kekuatan kita, itu semua tergantung dari bagaimana kita melihatnya. “

Anak perempuannya mengangguk-angguk kecil mendengar penuturan ayahnya dan si kendi bocor tersenyum  mengingat kata-kata dari tuannya. Memang ia tak mengerjakan tugasnya dengan sempurna, akan tetapi tiap sesuatu punya batas kemampuan dalam menjalani setiap tugas yang ia pikul. Bukan kah manusia sama seperti dirinya?


Merekapun pulang, ditangan si anak perempuan terlihat serumpun bunga-bunga yang telah ia petik untuk penghias jambangan di rumahnya, dan kendi bocor itu tak bersedih lagi, sebaliknya ia sekarang bahagia dan  tulus membiarkan air-air mengalir dari lubang yang bocor tersebut.

***
Kisah dua kendi tersebut, saya tulis kembali setelah mendengar ceritanya dari sebuah acara televisi. Mungkin terdapat perbedaan dari segi penuturan meskipun tanpa mengurangi inti dari kisah tersebut.

Salam............................................... 




 

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi blog saya...
silahkan tinggalkan komentar anda, yang berhubungan dengan artikel yang dibahas.
No sara / pornografi.

Popular Posts

Favorite

Langitanisa's bookshelf: read

Naruto, Vol. 01: The Tests of the Ninja
Love in the Time of Cholera
Lust for Life
The Mysterious Howling
Misteri Lemari Antik
Absolute Boyfriend, Vol. 01
Famous Five 16: Five Go To Billycock Hill
With This Ring
Warm Bodies
Christmas Stories
Golden Book
The Invention of Hugo Cabret
The Five Orange Pips
Death Note, Vol. 7: Zero
Death Note, Vol. 1: Boredom
Death Note, Vol. 5: Whiteout
Death Note, Vol. 8: Target
Bleach Volume 01: Strawberry and the Soul Reapers
Death Note, Vol. 2: Confluence
A Study in Scarlet

Kabarlingga.com