Saturday, November 23, 2013

Short Story : Simfoni Hujan Merah Jambu

bermain, wallpaper, persahabatan, cinta, kisah



Sialan—
Makinya dalam hati sambil menatap kesal pada sepasang sepatu di kedua kakinya. Keringatnya mengucur deras, seirama dengan nafasnya yang tersengal-sengal.
“Dasar payah!” umpat seorang gadis di pojokan sana, sambil tertawa. Tawanya begitu renyah. Pertanda ia kembali berhasil memenangkan permainan itu.
“Aku mau kita ulangi lagi...” tantang bocah laki-laki itu.

“TIDAK MAU—KAMU SUDAH KALAH.....” ditekannya kata “ kalah” tersebut sedalam mungkin.
“ehm..coba kuingat-ingat telah berapa kali kamu kalah....” tawa sang gadis ketika mulai menghitung pada jari-jemarinya. Mimik wajahnya dibuat-buat bagai seorang yang pikun. Atau bak bocah yang baru pandai menghitung.
“Sudah selesai menghitungnya—ini tidak lucu!” jawabnya ketus.
“Aku rasa belum...” balas sang gadis dengan santainya.

Ia menghela nafas. Frustasi. Bagaimana tidak! Ia dikalahkan oleh seorang gadis. Ini memalukan untuk dirinya. Harga dirikah? Ia mulai melangkah menghampiri gadis itu yang tengah menatapnya.
Wajah itu. Tawa itu. Ejekan itu. Apakah itu yang membuatnya tersiksa selama ini? berulang kali ia bertanding dengan gadis itu, berulang kali ia tak pernah menjadi pemenang. 

Apakah itu sumber kekalutannya? Rasa itu lebih besar dari pada sebuah rasa kalut. Rasa yang luar biasa menderitanya kini ia rasakan.
“Jika bukan rasa kalut, LALU APA......?
Teriak hatinya yang lain.

Ia ingin mencari tahunya. Tinggal selangkah lagi ia menuju gadis itu. Tiba-tiba hujan mulai mengguyur mereka. Terjebak bersama gadis itu dibawah deretan bangunan kota, tempat mereka bermain seperti biasa.

“Emm..hujan” bibir sang gadis seperti merapalkannya dengan hati-hati.
“tidak suka?” tanya lelaki itu, ada sedikit nada khawatir yang ia tangkap dari nya.
“Suka—“Jika hari hujan, dan kamu punya sebuah keinginan, maka ucapkanlah dengan tulus keinginanmu tersebut. keinginanmu pasti akan terwujud.”
“Konyol...” balas lelaki itu. Cuek.
Sudut mata mereka berpaut satu sama lain.
Ada rasa. Hanya masing-masing sebuah senyum telah menghias di sudut bibir.

Namun, diam-diam hatinya mempercayai apa yang dikatakan gadis itu. Ia mulai mengucapkan keinginannya. Hanya satu.
Akhirnya ia mengerti apa yang menjerat dirinya selama ini.
Bukan kekalahan pertandingan ini.
Tapi.......
gadis ini.
Ia ingin jadi pemenang. Bukan di pertandingan itu.
Tapi di hati gadis di hadapannya kini.

*************************  

 ^^ fuuuhhhh kelar juga saya buat cerpen, semoga teman-teman menyukainya. Hmm walau judul sama gambarnya tidak cocok satu sama lain -_- harap dimaklumi.
Saran dan kritik sangat dibutuhkan, terutama yang membangun ^^ * tidak menerima saran dan kritik yang menghancurkan perasaan saya xD
  

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi blog saya...
silahkan tinggalkan komentar anda, yang berhubungan dengan artikel yang dibahas.
No sara / pornografi.

Popular Posts

Favorite

Langitanisa's bookshelf: read

Naruto, Vol. 01: The Tests of the Ninja
Love in the Time of Cholera
Lust for Life
The Mysterious Howling
Misteri Lemari Antik
Absolute Boyfriend, Vol. 01
Famous Five 16: Five Go To Billycock Hill
With This Ring
Warm Bodies
Christmas Stories
Golden Book
The Invention of Hugo Cabret
The Five Orange Pips
Death Note, Vol. 7: Zero
Death Note, Vol. 1: Boredom
Death Note, Vol. 5: Whiteout
Death Note, Vol. 8: Target
Bleach Volume 01: Strawberry and the Soul Reapers
Death Note, Vol. 2: Confluence
A Study in Scarlet

Kabarlingga.com