Saturday, April 12, 2014

Momo Tidak Gendut



 Hari ini Momo tidak mau makan. Ia tidak ingin makan terlalu banyak. Padahal, ia telah menemukan sebuah apel merah. Sangat besar. Dan ranum. Apel itu baru saja jatuh dari pohonnya yang sangat tinggi.
Momo sangat menyukai apel merah. Tapi, kemarin seorang temannya mengejek bentuk tubuhnya. Temannya mengatakan bahwa Momo adalah anak perempuan ulat daun yang gendut. Anak perempuan yang gendut, pasti jelek penampilannya.


Betapa sedih hati Momo saat mendengar ejekan itu. Maka, ia memutuskan tidak akan banyak makan lagi. Ketika Momo sedang  melamun, lewatlah seorang anak laki-laki ulat daun. Ternyata itu adalah Kiko, sahabat Momo.

“Hai Momo, apa yang sedang kamu lakukan disitu?” sapa Kiko
Seketika Momo tersadar dari lamunannya. Kiko pun menghampiri Momo yang sedang duduk di samping buah apel.

“Wah...kamu menemukan sebuah apel yang besar. Benar. Sangat besar.” Kata Kiko sambil memperhatikan buah apel itu.
“Iya...tadinya aku ingin memakannya.......” Jawab Momo
“kalau  begitu makan saja.” Kata Kiko
“Kalau aku makan apel itu, nanti aku jadi bertambah gendut?”

“Ha..ha........Momo kamu ini lucu sekali....” Kiko tertawa  lepas, wajahnya  yang tertawa terlihat senang sekali.
“Buty mengejekku...ia bilang aku adalah anak perempuan ulat daun yang gemuk dan jelek.” Jelas Momo kepada Kiko dengan raut wajah muram.

“Oh ya! Jahat sekali si Buty. Kamu tidak boleh percaya pada ucapannya.” Kata Kiko memberi semangat pada Momo. Juga terlihat marah karena ada yang telah membuat Momo bersedih.

“Apa badanku begitu gendut, Kiko?” tanya Momo.
Kiko kemudian duduk disamping Momo, dan katanya,
“Badanmu tidak gendut. Tidak benar-benar gendut. Dan kamu tidak jelek.”
“Benar....??” tanya Momo ragu-ragu.

“Ya benar. Aku tidak berbohong kepadamu. Kamu adalah anak perempuan ulat daun yang manis dan baik. Aku percaya itu.” Kata Kiko sambil memberikan senyumannya yang manis seperti gula-gula kepada Momo.
“Terima kasih Koko, sekarang aku tidak sedih lagi.” Kata Momo dan tak lupa pula ia membalas senyuman Kiko.

“Nah..begitu lebih baik, oh iya aku hampir saja lupa....” Kata Kiko sambil berlari sebentar ke dalam semak-semak.
Ia muncul dengan membawa sebutir ceri merah yang begitu lezat pada kedua tangannya.
“Ini untukmu...tadi aku menemukannya di pohon ceri yang biasa ku lewati.” Kata Kiko sambil menyerahkan ceri kepada Momo.

“Kalau begitu aku juga ingin memberimu setengah dari apel ini, ibumu pasti akan membuat kue Pie apel untuk kita.” Kata Momo
“Momo kamu baik sekali, ibuku pasti senang” Kata Kiko
“Dan aku beruntung, mempunyai sahabat sebaik dirimu.” Balas Momo

Akhirnya Momo dan Koko pun pulang.  Momo sekarang tidak sedih lagi. Ia kini lebih percaya pada diri nya sendiri bukan pada ucapan orang lain.

******


 

Sketsa Awal

2 comments:

  1. pesan yang kutangkap dari cerita diatas adalah:
    itulah sahabat sejati yang selalu ada disaat suka maupun duka,yang saat ini semakin sulit dicari.oya lam kenal yambak

    ReplyDelete

Terima kasih telah mengunjungi blog saya...
silahkan tinggalkan komentar anda, yang berhubungan dengan artikel yang dibahas.
No sara / pornografi.

Popular Posts

Favorite

Langitanisa's bookshelf: read

Naruto, Vol. 01: The Tests of the Ninja
Love in the Time of Cholera
Lust for Life
The Mysterious Howling
Misteri Lemari Antik
Absolute Boyfriend, Vol. 01
Famous Five 16: Five Go To Billycock Hill
With This Ring
Warm Bodies
Christmas Stories
Golden Book
The Invention of Hugo Cabret
The Five Orange Pips
Death Note, Vol. 7: Zero
Death Note, Vol. 1: Boredom
Death Note, Vol. 5: Whiteout
Death Note, Vol. 8: Target
Bleach Volume 01: Strawberry and the Soul Reapers
Death Note, Vol. 2: Confluence
A Study in Scarlet

Kabarlingga.com