Tuesday, May 13, 2014

Sekelumit Renunganku : Akasia Tua



akasia, glandy, primatri, pohon, foto, alam, langit


Pemandangan menarik yang saya temui tiap kali pulang dari bekerja adalah melihat pagar-pagar kawat berduri yang mengelilingi sebuah sekolah. Bukan pagar kawatnya yang menarik mata saya, akan tetapi di halaman belakang sekolah tersebut tumbuh dua batang pohon Akasia.

Bukan pohon Akasia yang tumbuh subur dengan daun-daun hijaunya. Akan tetapi, pohon Akasia yang  sama sekali tidak mempunyai daun. Satu helai pun daun. Hanya cabang-cabang serta ranting yang menyusunnya.

Jika waktu pulang tiba, saya sering memperhatikan dua batang pohon tersebut. pemandangan kecil yang indah bagi saya sekaligus menghibur akan rasa lelah saya berjalan kaki untuk pulang ke rumah.

Sesering saya melewatinya, sesering pula saya memikirkan tentang akasia tersebut. Saya heran serta takjub memikirkan bagaimana Akasia tersebut masih bisa terus hidup meski ia hanya tinggal cabang dan ranting saja.

Bagaimana sesuatu yang hampir mendekati ajal-hampir mati, dapat terus hidup bahkan berdiri dengan indah?

Terkadang, saya menjadi iri dengan semangat dan keberanian yang ia miliki.

Rantingnya terus tumbuh menjulang ke langit. Terus tumbuh dari hari ke hari dengan gagah dan berani. Meski, keadaannya tidak muda lagi. Ia tidak peduli--betapa rapuh dan tuanya diri, ia akan tumbuh selagi ia mampu terus tumbuh dan hidup.

Ah, saya membayangkan Akasia adalah seorang manusia. Manusia yang telah begitu tua dan papa. Entah bagaimana, ia masih mempunyai banyak harapan—impian—cita.

Pernahkah kita memberi batas waktu dalam mewujudkan mimpi-mimpi yang kita miliki di hidup ini?

Jawabannya adalah TIDAK. 

Kita tidak pernah memberi batas waktu. Kita terus berharap dan berusaha mewujudkannya, meski hari telah berganti menjadi minggu. Minggu berganti menjadi bulan, dan bulan menjadi tahun.

Dari rambut kita masih berwarna hitam hingga memutih, tiap orang berharap satu dari sekian banyak mimpi dalam hidupnya akan menjadi nyata. Benar—jadi nyata. Satu dari sekian banyak impian dalam hidup kita.

Apakah sesuatu yang memalukan, jika menjadi tua namun masih ingin mewujudkan sebuah impian dalam hidup?

Apakah menjadi tua itu hanya cukup untuk menjadi tua saja?
Kalau di dunia ini orang yang telah tua hanya diberi tugas bertambah tua lalu mati, cobalah belajar merenungi bagaimana Akasia tua itu mampu berdiri sampai detik ini.
*******

“Setiap detik umur kita semakin bertambah,
Lalu apakah kebijaksanaan kita
Bertambah setiap detiknya.”





1 comment:

  1. It's beautiful dear Anisa :) Have a very nice week :)

    ReplyDelete

Terima kasih telah mengunjungi blog saya...
silahkan tinggalkan komentar anda, yang berhubungan dengan artikel yang dibahas.
No sara / pornografi.

Popular Posts

Favorite

Langitanisa's bookshelf: read

Naruto, Vol. 01: The Tests of the Ninja
Love in the Time of Cholera
Lust for Life
The Mysterious Howling
Misteri Lemari Antik
Absolute Boyfriend, Vol. 01
Famous Five 16: Five Go To Billycock Hill
With This Ring
Warm Bodies
Christmas Stories
Golden Book
The Invention of Hugo Cabret
The Five Orange Pips
Death Note, Vol. 7: Zero
Death Note, Vol. 1: Boredom
Death Note, Vol. 5: Whiteout
Death Note, Vol. 8: Target
Bleach Volume 01: Strawberry and the Soul Reapers
Death Note, Vol. 2: Confluence
A Study in Scarlet

Kabarlingga.com