Friday, July 11, 2014

Putri Bertangan Buntung Yang Dermawan


girl, little, rainbow, song, wallpaper, cute, Paint Tool SAI



Alkisah, hiduplah seorang putri bangsawan kaya-raya. Parasnya cantik dan  baik budi pekertinya. Gadis itu juga sangat mengasihi sesama. Berjiwa sosial dan dermawan.
Syahdan, suatu kala bangsa Israil mengalami musibah kelaparan dan kemiskinan melanda seluruh negeri. Banyak rakyat jatuh miskin dan berkelana. Mencari sesuap nasi dengan cara meminta belas kasihan orang kaya.

Saat itu, datanglah seseorang yang meminta-minta ke rumah si gadis,

“ Berilah aku sedekah. Sepotong roti saja, tuan putri,” kata peminta-minta tersebut memelas.
Gadis itu segera keluar. Membawa sepotong roti di tangan kanan. Diberikannya roti itu kepada peminta-minta yang sudah sangat tua itu.
“Terimalah sedekahku Pak tua,”ujar gadis itu dengan sopan.

Namun, ayahnya sangat kikir dan bengis. Dia marah melihat anak gadisnya memberi sepotong roti kepada peminta-minta. Anak gadisnya lalu ditampar. Roti itu dicampakkan. Tangan kanan anak gadisnya yang digunakan menyerahkan roti ditebasnya dengan sebilah pedang.

“Kau terlalu lancang! Itulah hukumanmu!” teriak ayahnya  dengan bengis. 

Waktu terus berjalan. Nasib bagaikan sebuah roda yang terus berputar. Bangsawan yang semula hidup kaya-raya berubah jatuh miskin. Termasuk ayah si gadis. Hidupnya menjadi sengsara. Dan akhirnya ia meninggal dalam keadaan miskin.

Sementara anak gadisnya terlantar. Dia  mengembara hingga tibalah di depan rumah penduduk kampung. Dari dalam rumah, seorang ibu membuka pintu. Ibu itu tertegun melihat gadis kumal tersebut. Di balik penampilannya yang kumal, kecantikan tersembunyi tampak dari wajah si gadis.
Ibu itu iba dan bertanya, 

“Dari mana asalmu, Nak?”
“Dari kampung yang jauh, Bu.”
“Kemana tujuanmu?” Apa tujuanmu di kampung ini?” 
“Saya menggelandang, Bu. Untuk hidup saya mengembara dari kampung ke kampung.”

Ibu itu menatap wajah si gadis. Kecantikan gadis tersebut tak bisa disembunyikan dari pakaiannya yang jelek dan kumuh.

“Dia pasti bukan berasal dari keluarga sembarangan,” pikir si ibu.

Dengan ramah, ibu itu menuntun tangan kiri gadis itu. Diajaknya masuk ke rumah. Gadis itu diberi pakaian bagus dan indah. Semakin terlihat kecantikannya yang asli.

“Kau pasti bukan anak orang miskin,” tebak si ibu.
“Memang, dahulu ayah saya kaya-raya. Dia tergolong keluarga bangsawan. Namun kami ditimpa kemiskinan. Sehingga kami menjadi gelandangan.”
“Sudahlah jangan ratapi nasibmu. Maukah kau kujadikan menantu?”
“Saya, Bu?”
“Ya, kau. Kujodohkan dengan anakku yang tampan.”
“Mana berani. Saya tak pantas, Bu.”
“Jangan berkata begitu. Jangan merendahkan dirimu kepada sesama manusia.”
“Baiklah, Bu. Saya terima.”

Anak gadis itu pun diterima tinggal dirumahnya. Bahkan akan diambil menantu. Dinikahkan dengan anak laki-laki si ibu. Hari yang ditentukan tiba. Dilangsungkanlah pesta pernikahan gadis itu dengan anak si pemilik rumah.

Di malam pengantin, duduklah dua sejoli tersebut di pelaminan. Dihadapan mereka tersedia bermacam jamuan makanan. Pengantin perempuan mengambil sepotong kue dengan tangan kiri. Dan memasukkan ke mulutnya. Berkali-kali hal itu dilakukannya.

Melihat hal itu, timbul perasaan malu suaminya. Suaminya lalu memohon,
“Istriku, gunakan tangan kananmu. Agar terlihat sopan.”

Meskipun sudah diperingatkan, gadis tersebut masih saja menggunakan tangan kirinya setiap mengambil makanan. Karena kesal dan malu, suaminya menggerutu dan menghardik,
“Dasar perempuan miskin. Tak punya sopan santun!” Ucap laki-laki itu gusar.

Mendengar suaminya mengumpat, perempuan itu diam. Dia menunduk. Raut wajahnya sedih.
Tiba-tiba terdengar bisikan lembut di telinga gadia itu,
“Keluarkan tangan kananmu, wahai umat-Ku. Engkau telah menyedekahkan roti kepada-Ku dengan tanganmu itu. Sudah pantasnya Aku menggantinya kembali,” bisik suara tersebut.

Atas izin Allah swt, saat itu juga terjulurlah tangan kanan gadis itu. Utuh seperti dahulu dimilikinya. Gadis itu juga terkejut dengan apa yang terjadi. Lantas dengan tangan kanannya, dia mengambil makanan. Menemani suaminya memakan jamuan malam pernikahannya.

*****
Sumber :
 Thobroni, M.2009.Kumpulan Dongeng Teladan Islami.Yogyakarta : Wahana Totalita Publisher.


2 comments:

  1. perasaan pernah bace cerite ni,tpi lupe dimne,..
    mntap kk,ade inisiatif utk tulis ulang lagik,..:D

    ReplyDelete
  2. Nice publication chère amie Anisa.Have a very good weekend :)

    ReplyDelete

Terima kasih telah mengunjungi blog saya...
silahkan tinggalkan komentar anda, yang berhubungan dengan artikel yang dibahas.
No sara / pornografi.

Popular Posts

Favorite

Langitanisa's bookshelf: read

Naruto, Vol. 01: The Tests of the Ninja
Love in the Time of Cholera
Lust for Life
The Mysterious Howling
Misteri Lemari Antik
Absolute Boyfriend, Vol. 01
Famous Five 16: Five Go To Billycock Hill
With This Ring
Warm Bodies
Christmas Stories
Golden Book
The Invention of Hugo Cabret
The Five Orange Pips
Death Note, Vol. 7: Zero
Death Note, Vol. 1: Boredom
Death Note, Vol. 5: Whiteout
Death Note, Vol. 8: Target
Bleach Volume 01: Strawberry and the Soul Reapers
Death Note, Vol. 2: Confluence
A Study in Scarlet

Kabarlingga.com