Tuesday, December 2, 2014

Wise Word of Vincent Van Gogh


"Potato Eater"
1885



Dia melukis dengan keseluruhan warna kentang yang indah, berdebu, tidak dikupas.

Ada taplak meja linen yang kotor, dinding yang penuh asap,lampu menggantung dari rusuk langit-langit yang kasar. Sien melayani ayahnya dengan menghidangkan kopi pahit, saudara laki-lakinya mengangkat cangkir ke bibir, dan di semua wajah mereka ada ketenangan, penerimaan yang penuh kesabaran atas tatanan semesta yang abadi.
                                                                            ( Lust For Life – Irving Stone )

Berbicara tentang seorang Vincent Van Gogh, saya kira tidak akan habisnya rasa kagum saya kepada tokoh ini bagi saya pribadi—setelah membaca buku biografi seorang Vincent Van Gogh. Kerja keras, pantang menyerah, dan tangguh melewati tiap penderitaan yang datang di sepanjang hidupnya tak membuat ia sekalipun untuk berhenti melukis.  Jalan  baginya untuk mengabdikan hidupnya di dunia ini dengan cara menjadi seorang pelukis.

Nama Theo tidak bisa ditinggalkan ketika membicarakan seorang Vincent Van Gogh. Ia adalah salah satu adik laki-laki Vincent yang berjarak 4 tahun dari usia Vincent. Kepada  Theo lah ia mencurahkan segala isi hatinya. Sang adik juga menjadi orang yang berjasa dalam hidup Vincent Van Gogh—menyokong keuangan Vincent Van Gogh dan orang yang benar-benar menyayanginya.

“Adikku adalah satu-satunya jiwaku di dunia”. 

Pada masa muda Vincent pernah mencicipi masa-masa cerah, penuh harapan untuk masa depannya sebelum ia memutuskan melukis sebagai jalan hidupnya. Beberapa kali ia berganti pekerjaan hingga akhirnya  memilih untuk menjadi seorang pelukis. 

Saya berandai-andai, jika seorang Vincent Van Gogh tak berpaling dari pekerjaannya sejak awal, dan tak memilih menjadi seorang pelukis tentu ia mempunyai masa depan yang cerah, ia tidak akan selalu mengalami kelaparan, tak harus menerima hinaan dari orang-orang disekitarnya, dan dikucilkan oleh keluarganya sendiri. Ia bisa hidup bahagia dengan orang yang dicintainya. Tentu.

Lalu....pertanyaan lainnya muncul dipikiran saya, kalau begitu tak akan ada di dunia ini sebuah cerita tentang seorang pelukis terkenal yang karyanya bernilai sangat mahal. Tak akan ada nama Vincent Van Gogh diantara daftar nama para pelukis, tak akan ada lukisan indah darinya yang ditinggalkan bagi di dunia, dan tak kan ada kisah hidupnya, serta kerja kerasnya yang menginspirasi bagi kita.

Ada sebuah kalimat yang berbunyi  seperti ini, “Tuhan tidak pernah salah untuk memilih seseorang”

Hanya Vincent Van Gogh bukan orang lain yang harus menjadi pelukis yang dimana di dalam hidupnya harus mengalami penderitaan. Karena ia mampu membawa beban itu.
Hanya seorang Vincent Van Gogh bukan mereka yang mengalami dirinya harus dikucilkan oleh keluarganya sendiri. 
Dan hanya seorang Vincent Van Gogh bukan orang lain, yang bisa menanggung semua kegagalan-kegagalan dalam hidupnya. 

Meski, hingga akhir hayatnya ia belum sempat menyaksikan karyanya dihargai oleh orang-orang. Keputusasaan membawanya untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, sungguh sebuah tindakan yang amat disayangkan. 

Terlepas dari benar / salah tindakan seorang Vincent Van Gogh tersebut, tak salahnya kita melihat sisi-sisi baik dari seorang Vincent van gogh yang telah menjadi inspirasi bagi para pelukis lainnya di dunia.

Berikut beberapa kata-kata mutiara dari Vincent Van Gogh :





"Vincent Van Gogh"


Tidak apa-apa, Theo,
kata-kata yang mereka ucapkan sangat benar.
Hanya saja, mereka tidak mengerti motivasiku dan
tidak melihat hubungan yang ada
antara masa kini dan seluruh kehidupanku.

Tapi kalau aku telah jatuh di dunia ini,
kau, sebaliknya justru melesat naik.

Kalau aku telah kehilangan simpati, kau mendapatkannya.
Hal itu membuatku sangat bahagia.
Aku mengatakan itu dengan tulus, dan akan selalu begitu.

Tapi aku akan sangat senang
kalau kau bisa melihat dalam diriku sesuatu yang lain dari pada seorang pemalas.






View of vessenots near Auvers
1980


Aku tidak sendirian, karena Tuhan tidak meninggalkanku.
Suatu hari, bagaimanapun
 aku akan menemukan cara untuk mengabdikan diriku kepada-Nya.




Old man in sorrow ( on threshold of eternity )
1890



Menggambar manusia dan pemandangan dalam kehidupan
tidak hanya membutuhkan pengetahuan tentang keterampilan tangan dalam  menggambar, tapi juga membutuhkan pembelajaran yang amat dalam tentang karya sastra.






Enclosed  field with rising sun
1889




Pada dasarnya, alam dan pelukis itu sejatinya saling cocok.
Mungkin perlu waktu

bertahun-tahun untuk berjuang dan bergulat

sebelum dia menyerah dan menjadi patuh,
tapi pada akhirnya,
karya yang buruk, sangat buruk,
akan berubah menjadi karya yang bagus dan membenarkan dirinya sendiri.





"The Shepherdess After Millet"



                          Menggambar manusia dan pemandangan dalam kehidupan
tidak hanya membutuhkan pengetahuan tentang keterampilan tangan dalam  menggambar, tapi juga membutuhkan pembelajaran yang amat dalam tentang karya sastra.








Aku tidak bisa menggambar figur
tanpa mengetahui semua tentang tulang-tulang, otot-otot, dan urat-urat yang ada di dalamnya. dan aku tidak bisa menggambar kepala
tanpa tahu apa yang terjadi di dalam otak dan jiwa orang itu.

Untuk melukiskan kehidupan orang harus memahami tidak hanya anatomi,
tetapi juga apa yang dirasakan  dan dipikirkannya tentang dunia tempat mereka tinggal.

Seorang pelukis yang hanya paham akan keterampilan tangannya sendiri
dan bukan yang lain
nantinya akan menjadi pelukis yang sangat dangkal.


"Vase with Red Poppies"
1886



Kupikir lebih tidak pantas jika seorang kritikus seni menggali kehidupan pribadi seseorang,
padahal karyanya sebetulnya tak tercela.

Karya seorang pelukis dan kehidupan pribadinya itu
Seperti seorang wanita ketika sedang bersalin dan bayinya.

Anda bisa melihat bayinya, tetapi .....
anda tidak boleh menyingkap bajunya
untuk melihat apakah ada noda darah,
itu sangat tidak sopan.



"A Meadow in The Mountains, Le Mas de Saint Paul"
1889


Bekerja tanpa model adalah kehancuran bagi seorang pelukis figur



"Wheatfield with Crows"
1890



Orang tidak akan selalu menjadi teman;
Orang kadang harus bertengkar.



"Daubigny's Garden"
1890



Karyaku lebih bagus.
Karyaku lebih jujur, lebih dalam.
Aku mengungkapkannya secara lebih banyak dengan pensil tukang kayu
dibanding dia dengan sekotak penuh cat.

Apa yang diungkapkannya sudah jelas.
Setelah selesai dilihat, tidak ada lagi yang tersisa.
Mengapa mereka memberinya pujian serta uang
dan
Menolak untuk memberiku sekedar roti hitam dan kopi?



"Still Life With Five Bottles"
1884 



Aku harus menggambar semua benda seperti caraku melihat
Benda-benda itu, tidak dengan caramu melihatnya.



"Bulb Fields"
1883



Karya yang dikerjakan dengan susah payah
dan diberi karakter dan sentimen bukanlah suatu hal
yang tidak menarik atau tidak bisa dijual.
Kupikir mungkin akan lebih baik kalau karyaku tidak mencoba
untuk sekedar menyenangkan orang lain lebih dulu.




 "Starry Night Over The Rhone"
1883



Katakan kepadaku,
Bagaimana seseorang bisa menganggap dirinya benar
 dengan menghabiskan kehidupannya yang hanya sekali
untuk menjual lukisan-lukisan yang sangat jelek
kepada orang-orang yang sangat bodoh?
 




"Enclosed Field with Reaper"
1889



Hal mendasar dalam melukis tidak ada kaitannya dengan pendapatan seseorang
 



"Field with Poppies"
1889



Berjalan-jalan di dermaga, di gang-gang dan pasar-pasar, di ruang-ruang tunggu
dan bahkan di tempat-tempat minum, itu bukanlah cara yang menyenangkan untuk melewatkan waktu, kecuali untuk seorang pelukis!
Sebagai pelukis,
seseorang mungkin akan lebih memilih untuk berada di tempat-tempat paling kotor,
dimana ada sesuatu untuk digambar,
daripada berada di pesta minum teh dengan gadis-gadis yang memesona.
 



"Sunflower"



Perilaku manusia, sangat mirip melukis.
Seluruh sudut pandangnya berubah kalau posisi mata diubah,
tidak tergantung pada objeknya, tetapi pada orang yang melihatnya.
 





"Couple walk in Trees"
1889



Mencintai itu mudah,
tapi untuk dicintai itu yang sulit



"The Church at Auver"
1890



Kadang-kadang orang bisa pengertian dan dermawan,
Kadang-kadang mereka buta dan keji.
 



"Edge of a Wheat Field with Poppies and a Lark "


Tempatku adalah menggambar dengan para penggali lubang di Geest,

seperti yang telah aku lakukan seharian.
Di sana, wajahku yang buruk dan mantelku yang lusuh sempurna menyatu dengan lingkungan sekitarnya, serta menyatu dengan diriku sendiri
dan aku bekerja dengan senang hati.
Tujuan aku melukis adalah membuat orang melihat yang layak diamati
dan yang tidak diketahui semua orang.






"Tree Lined Avenue"



Hidup seorang wanita akan hampa jika dia

tidak punya cinta untuk mengisinya




 "A Lane in The Public Garden at  Arles"


Kehidupan itu sendiri akan menampilkan
kepada seseorang sisi kosong yang selamanya hampa,
tidak bersemangat,
tidak punya harapan,
tidak lebih daripada yang ditampilkan kanvas kosong ini.
Tapi......
orang yang punya keyakinan dan energi
tidak akan bisa ditakuti oleh kekosongan itu.
Dia melangkah masuk, dia bertindak, dia membangun, dia berkreasi,
Dan pada akhirnya kanvas itu tidak akan lagi kosong
Tapi diselimuti oleh pola-pola kehidupan yang kaya.


 

 "Still Life Vase with Roses"

Mari kita melukis sebanyak yang kita mampu,
dan menjadi diri kita sendiri dengan kesalahan-kesalahan
dan kualitas diri kita
 

 





















2 comments:

  1. Nice publication dear friend Anisa. I love Vincent van Gogh :) I wish you a lovely weekend :)

    ReplyDelete

Terima kasih telah mengunjungi blog saya...
silahkan tinggalkan komentar anda, yang berhubungan dengan artikel yang dibahas.
No sara / pornografi.

Popular Posts

Favorite

Langitanisa's bookshelf: read

Naruto, Vol. 01: The Tests of the Ninja
Love in the Time of Cholera
Lust for Life
The Mysterious Howling
Misteri Lemari Antik
Absolute Boyfriend, Vol. 01
Famous Five 16: Five Go To Billycock Hill
With This Ring
Warm Bodies
Christmas Stories
Golden Book
The Invention of Hugo Cabret
The Five Orange Pips
Death Note, Vol. 7: Zero
Death Note, Vol. 1: Boredom
Death Note, Vol. 5: Whiteout
Death Note, Vol. 8: Target
Bleach Volume 01: Strawberry and the Soul Reapers
Death Note, Vol. 2: Confluence
A Study in Scarlet

Kabarlingga.com