Thursday, December 10, 2015

Dongeng Klasik : Kisah Seorang Malaikat Oleh "Hans Christian Andersen"






“Kapan pun ada anak-anak baik yang meninggal, seorang malaikat Tuhan turun dari surga untuk membawa anak yang meninggal itu dengan membopongnya, merentangkan sayap putih besarnya, dan terbang membawa anak itu ke semua tempat yang disukai anak itu semasa hidupnya. Kemudian, malaikat itu mengumpulkan sekumpulan bunga, yang dia bawa kepada Yang Maha Kuasa, sehingga bunga-bunga itu bisa mekar dengan jauh lebih indah  di surga daripada ketika mekar di bumi. 
Dan Yang Maha Kuasa pun mendekap bunga-bunga itu ke dalam hati-Nya. Dia hanya mencium bunga yang paling menyenangkannya. Dan bunga yang dicium itu mendapatkan kemampuan untuk bersuara, sehingga bunga itu bisa bergabung dalam nyanyian paduan suara para orang terbekati.

Kata-kata tersebut diucapkan oleh seorang malaikat Tuhan, ketika dia membawa seorang anak yang telah meninggal ke surga, dan anak itu mendengarkan malaikat itu seolah-olah sedang bermimpi. Kemudian mereka melewati sebuah tempat yang sangat terkenal dimana anak itu biasa bermain, juga kemudian mereka melewati taman-taman indah yang penuh dengan bunga-bunga menawan. 

“Bunga yang mana yang seharusnya kita bawa ke surga untuk di tanam disana?” tanya malaikat itu.

Di dekat mereka tumbuhlah sekumpulan tanaman bunga mawar yang menarik, namun tangan-tangan jahil telah mematahkan tangkai bunganya, sehingga bunga mawar yang hanya bisa setengah mekar itu tergantung hampir layu pada cabang-cabang tanaman mawar itu. 

“Tanaman mawar yang malang!” kata anak itu,”Mari kita bawa mawar yang ini ke surga, agar bunga mawar ini bisa mekar di taman milik Tuhan.”
 Malaikat itu mengambil tanaman bunga mawar yang dimaksud oleh anak itu. Kemudian dia mencium anak itu, dan anak itu pun setengah membuka matanya. Sang malaikat mengumpulkan juga beberapa bunga yang indah seperti sekumpulan bunga Buttercup dan Heart-Ease.

“Sekarang kita sudah mempunyai cukup bunga untuk dibawa,” kata anak itu, namun sang malaikat hanya mengangguk, dia tidak langsung terbang menuju ke surga.

Saat itu hari telah gelap, dan suasana kota begitu sepi. Namun malaikat dan anak itu masih berada di taman itu. Kemudian, sang malaikat melayang di atas sebuah jalan kecil yang sempit yang dijalan itu terdapat sekumpulan besar jerami, abu,  dan kotoran yang disapu dari rumah orang. Di jalan itu terdapat pecahan piring, sepihan cat rumah, sobekan kain, topi tua, dan berbagai macam sampah lain yang tentu saja tidak sedap dipandang mata. 

Di tengah semua hal-hal kotor itu, sang malaikat menunjuk sekumpulan pecahan pot bunga, dan segumpal tanah yang tumpah dari pot itu. Tanah itu tidak tersebar karena terjalin pada akar-akar tanaman bunga liar yang telah layu, yang telah terserak diantara kumpulan sampah itu.

“Kita Akan membawa tanaman bunga liar ini,” kata sang malaikat, “Aku akan memberitahumu alaasan kita membawanya ketika kita terbang nanti.”
  
Dan ketika mereka terbang menuju ke surga, sang malaikat menceritakan kisahnya.


“Jauh di sebuah jalan kecil yang sempit, di sebuah gudang bawah tanah, hiduplah seorang anak laki-laki kecil malang yang sakit, dia tidak bisa menikmati masa kecilnya karena selalu dirundung penderitaan. Dan, bahkan di hari-hari dimana dia cukup kuat saja dia hanya mampu berjalan di sekeliling ruangan itu dengan tongkat penyangga di ketiaknya, selain itu, dia tidak bisa apa-apa lagi.
  
Selama hari-hari di musim panas matahari akan menyinari lantai gudang itu selama setengah jam. Di  tempat itu si anak laki-laki kecil yang malang itu akan duduk disitu dan menghangatkan dirinya dengan sinar matahari, sambil mengamati peredaran darahnya yang bisa dia lihat melalui sela-sela jarinya ketika sinar matahari menerpa tangannya, sambil mengangkat tangannya itu di depan wajahnya. 

Kemudian, dia akan berkata pada dirinya sendiri bahwa dia telah berjalan-jalan keluar. Walaupun, sebenarnya dia tidak tahu apapun tentang hijaunya hutan pada saat musim semi datang terlambat, sampai seorang anak laki-laki datang dan membawakannya sebatang dahan pohon Beech yang masih segar.

Anak laki-laki yang sakit ini kemudian akan meletakkan dahan itu diatas kepalanya, dan membayangkan bahwa dirinya sedang berada di hutan yang penuh dengan pohon Beech sementara matahari bersinar terang, dan para burung menyanyi dengan riangnya.

Pada suatu hari di musim semi, anak laki-laki tetangga datang lagi dan membawa beberapa batang tanaman bunga liar, dan diantara kumpulan tanaman bunga itu terdapat sebatang tanaman bunga yang masih memiliki akar. Kemudian anak laki-laki yang sakit itu kemudian menanam tanaman yang masih memiliki akar itu dengan hati-hati pada sebuah pot bunga, lalu meletakkannya  di tempat duduknya yang berada di dekat jendela, yang juga dekat dengan tempat tidurnya.

Dan karena bunga itu ditanam oleh tangan orang yang baik dan penuh perhatian, tanaman itu pun tumbuh dengan sehatnya, menjadi pemandangan yang menyejukkan di dalam ruangan itu, dan tanaman itu selalu mekar bunganya setiap tahun. Tanaman itu tumbuh menjadi tanaman bunga yang paling indah untuk anak yang sakit itu, dan menjadi satu-satunya harta yang paling berharga untuk anak itu di dunia ini. Dia menyiramnya, menjaganya dengan sangat hati-hati, dan merawat tanaman itu agar tanaman itu bisa mendapatkan hangatnya sinar matahari yang bisa masuk sampai ke gudang bawah tanah itu, mulai dari sinar matahari yang paling awal sampai saat matahari terbenam di sore hari.


Tanaman bunga itu bahkan mengisi mimpi anak laki-laki yang sakit itu. Anak itu bermimpi bahwa bunga akan memekarkan kuntum bunganya dan menyebarkan semerbak harum wanginya. Dan mimpi itu membuatnya senang, hal itu terpancar dari sinar di matanya, juga pada bunga yang telah dia rawat itu, bahkan di dalam kematian, ketika Tuhan memanggilnya. 


Saat ini genap setahun anak itu dipanggil oleh tuhan. Selama setahun itu, tanaman bunga liar itu masih berada di jendela, dia telah layu dan terlupakan, sampai pada suatu saat dia tersapu ke jalanan, pada saat terjadi pemindahan penghuni rumah. 

“Dan bunga yang malang ini layu dan mengering. Kita harus  menambahkannya ke dalam rangkaian bunga yang harus kita bawa, karena bunga itu akan memberikan kebahagiaan yang lebih mendalam daripada bunga-bunga yang paling indah di taman milik seorang ratu.”

“Tapi bagaimana kau bisa tahu semua ini ?”  tanya anak yang sedang dibawa oleh malaikat menuju ke surga itu.

“Aku tahu itu,” jawab sang malaikat, “Karena aku sendirilah anak laki-laki kecil malang yang sakit yang berjalan dengan tongkat penyangga itu, dan tentu saja aku mengenali bunga milikku sendiri dengan sangat baik.”

Kemudian anak kecil itu membuka matanya lebar-lebar dan menatap wajah malaikat yang memancarkan kebahagiaan yang luar biasa itu, dan pada saat itu mereka sudah sampai di rumah mereka di surga, dimana terdapat semua kebahagiaan dan sukacita.

Kemudian Tuhan mendekap anak kecil itu ke dalam hati-Nya, dan sepasang sayap pun diberikan kepada anak itu agar dia bisa terbang bersama para malaikat, dan saling bergandengan tangan. Setelah itu yang maha kuasa mendekap semua bunga yang dibawa anak itu  ke dalam hati-Nya; namun sebelumnya dia mencium bunga liar yang telah layu itu dan bunga itu pun mendapatkan kemampuannya untuk bersuara.

Setelah mendapatkan suara, bunga itu bergabung dengan paduan suara malaikat yang mengelilingi takhta Tuhan; beberapa malaikat itu berada dekat dengan takhta, sementara beberapa yang lain terletak agak jauh, namun semua malaikat itu sama gembiranya.

Mereka semua bersama-sama menyanyikan pujian untuk Tuhan, baik malaikat yang besar maupun kecil, juga anak kecil yang bahagia itu bersama dengan si bunga liar yang malang. Bunga yang kini bahagia itu, pada suatu saat pernah layu dan tercampakkan diantara sekumpulan sampah di sebuah jalan yang gelap dan sempit.


Sumber:
Andersen, Hans Christian.2013.Koleksi Dongeng Terbaik Hans Christian Andersen.Yogyakarta: Narasi.

      

1 comment:

  1. HC andersen memang legendaris.... gambar2nya juga bagus.. XD

    ReplyDelete

Terima kasih telah mengunjungi blog saya...
silahkan tinggalkan komentar anda, yang berhubungan dengan artikel yang dibahas.
No sara / pornografi.

Popular Posts

Favorite

Langitanisa's bookshelf: read

Naruto, Vol. 01: The Tests of the Ninja
Love in the Time of Cholera
Lust for Life
The Mysterious Howling
Misteri Lemari Antik
Absolute Boyfriend, Vol. 01
Famous Five 16: Five Go To Billycock Hill
With This Ring
Warm Bodies
Christmas Stories
Golden Book
The Invention of Hugo Cabret
The Five Orange Pips
Death Note, Vol. 7: Zero
Death Note, Vol. 1: Boredom
Death Note, Vol. 5: Whiteout
Death Note, Vol. 8: Target
Bleach Volume 01: Strawberry and the Soul Reapers
Death Note, Vol. 2: Confluence
A Study in Scarlet

Kabarlingga.com