Wednesday, April 26, 2017

Kisah Sufi : Malu dilihat Anjing





Suatu hari, bersama beberapa temannya, Husain bin Ali berangkat ke kebunnya yang dijaga seorang budak bernama Shafi. Husain sengaja datang ke kebun itu tanpa memberi tahu terlebih dahulu sebelumnya. Ketika tiba di kebun, Husain melihat budaknya sedang duduk istirahat dibawah sebatang pohon sambil makan roti. Ia juga melihat seekor anjing sedang duduk dihadapan Shafi sedang menikmati makannya juga. 


Husain melihat Shafi membelah rotinya menjadi dua. Yang separuh dimakan sendiri, sedang separuhnya diberikan kepada anjing. Setelah selesai menghabiskan bagian roti masing-masing, Shafi berdoa sambil mengangkat kedua tangannya, 

Alhamdulillah Rabbil Alamin. Ya Allah berikanlah maaf dan ampun-Mu kepadaku dan tuanku. Limpahkannya, rahmat dan  karunia-Mu kepadanya sebagaimana engkau telah memberkati ayah dan bundanya dengan rahmat dan belas kasih-Mu ya Rabbal Alamin.”

Husain menyaksikan semua itu. Mendengar kata-kata dan melihat perbuatan Shafi, Husain tidak dapat menahan dirinya. Ia memanggil,
 “ Ya Shafi...”, Shafi kaget mendengar panggilan tuannya.

Sambil meloncat dengan gugup ia menjawab,
 “Aduh Tuanku ! Maafkan aku. Sungguh, aku benar-benar tidak melihatmu.” Shafi merasa bersalah karena tidak mengetahui kedatangan tuannya. Tetapi sambil mendekati Shafi, Husain berkata, “Sudahlah, sebenarnya aku yang bersalah dan minta maaf padamu. Sebab aku memasuki kebunmu tanpa izin dahulu.”

“Kenapa Tuan mengatakan demikian,” kata Shafi dengan rikuh.

“Sudahnya, jangan kita persoalkan lagi masalah ini. Hanya aku ingin tahu mengapa anjing itu tadi engkau beri separuh dari rotimu?” tanya al-Husain penuh penasaran.

Dengan malu Shafi menjawab, “Maklumlah Tuan, aku merasa malu dipandangi terus oleh anjing itu ketika aku hendak makan tadi. Sedang anjing itu milik tuan, dan dia turut menjaga kebun ini dari gangguan orang. Sedang aku hanya mengerjakan kebun tuan ini. Karena menurut pendapatku, rezeki dari tuan, sudah selayaknya kubagi dengan anjing ini.”

Mendengar penjelasan Shafi, Husain terharu dan meneteskan air mata. Orang yang berderajat budak ternyata memiliki budi yang tinggi. Dengan  suara parau, Husain berkata, “Wahai Shafi, saat ini juga engkau bebas dari perbudakan. Terimalah, dua ribu dinar sebagai pemberian dariku dengan penuh keikhlasan.”

Lama Shafi tertegun melihat Husain dan uang dua ribu dinar tersebut. Ia seolah tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Namun, Husain menganggukkan kepalanya dengan senyuman sambil menyerahkan uang tersebut.

Sumber :  Majalah Sabili Edisi No.8 Th. XI 6 November 2003

2 comments:

Terima kasih telah mengunjungi blog saya...
silahkan tinggalkan komentar anda, yang berhubungan dengan artikel yang dibahas.
No sara / pornografi.

Popular Posts

Favorite

Langitanisa's bookshelf: read

Naruto, Vol. 01: The Tests of the Ninja
Love in the Time of Cholera
Lust for Life
The Mysterious Howling
Misteri Lemari Antik
Absolute Boyfriend, Vol. 01
Famous Five 16: Five Go To Billycock Hill
With This Ring
Warm Bodies
Christmas Stories
Golden Book
The Invention of Hugo Cabret
The Five Orange Pips
Death Note, Vol. 7: Zero
Death Note, Vol. 1: Boredom
Death Note, Vol. 5: Whiteout
Death Note, Vol. 8: Target
Bleach Volume 01: Strawberry and the Soul Reapers
Death Note, Vol. 2: Confluence
A Study in Scarlet

Kabarlingga.com