Tuesday, May 9, 2017

TAMBAN






“Tamban ( Hilsa Keele )” begitu nama ikan ini disebut oleh masyarakat kami. Ikan yang sejak dahulu dikenal oleh para nenek moyang dan para orangtua kami sebagai satu-satunya  ikan yang kerap hadir di meja makan. Ikan yang populer di kota kami dan jika menyebut namanya pasti tak lupa orang-orang menambahkan nama kota kami. Seperti itulah kira-kira pendapat kebanyakan orang. Memang, jika dibandingkan dengan ikan-ikan lainnya seperti : Ikan Bawal, Ikan Kerapu, Ikan Talang, dan yang lainnya, Ikan  Tamban bukan jenis ikan-ikan kelas mahal. Apalagi jenis ikan yang memiliki daging dengan rasa lezat. Bukan sama sekali. Ikan ini merupakan ikan yang murah harganya di tempat kami dari rata-rata ikan yang ada. 



 

Meminjam istilah “merakyat”, kira-kira istilah itu cocok disandang oleh ikan tersebut.  Seingat saya sedari kecil hingga dewasa, Ikan Tamban tak pernah menjadi beban bagi perekonomian sebuah rumah tangga. Tidak  seperti  minyak yang harganya tak stabil yang sering melonjak drastis atau harga daging yang menaik tajam. Harga Tamban selalu selalu dan selalu stabil. Hanya terdengar sekali-kali harga ikan ini menaik, itu pun dengan kenaikan harga yang masih dibatas wajar. Atau pun para nelayan terpaksa menaikkan harganya dikarenakan cuaca yang buruk untuk melaut.

Tamban di tempat kami banyak diperjual belikan. Di pasar-pasar ikan atau di kedai-kedai. Tamban   dalam keadaan segar atau sudah dalam keadaan disalai. Tetapi, jenis kedua lah yang lebih dikenal yaitu ikan tamban yang dimasak dengan proses disalai. Maka, kami menyebutnya dengan nama ikan tamban salai. 

Jika orang-orang menjualkannya seperti biasa di pasar atau dijual dengan takaran per/kg, lain halnya dengan para penjaja Tamban yang dijajakan oleh para lelaki paruh baya dari kampung-kampung di kota kami. Mereka menjajakan Tamban dengan mengayuh sepeda dan membawa sebuah keranjang dibelakangnya. Keranjang dari rotan berbentuk persegi dengan sisi-sisi sudut nya yang melengkung. Di dalam keranjang inilah diisi Ikan-Ikan Tamban. Sambil mengayuh sepeda, mereka akan meneriakkan nama ikan tersebut bagai sebuah nada dalam sebuah lagu.

Nada yang sedap didengar oleh telinga. Menawarinya  ke setiap rumah yang mereka lewati. Para penjaja Tamban menjualnya dengan hitungan per/100 ekor ikan. Hitungan ini lebih murah harganya bagi masyarakat kami dibandingkan dijual dengan takaran per/kg nya yang dijajakan di pasar. Sayangnya, keranjang rotan yang dulu menjadi ciri khas para penjaja Tamban kini telah musnah tergantikan dengan tempat ikan berbahan plastik. Padahal, keranjang rotan ini memiliki sebuah daya tarik tersendiri. 



Di perayaan-perayaan besar seperti pernikahan, Tamban tak akan dihidangkan sebagai makanan mewah, tak juga ditemukan di perayaan – perayaan besar keagamaan seperti Idul Fitri dan Idul Adha ( kecuali olahan dari tamban ). Kita hanya menemukannya terhidang di meja makan sehari-hari dalam bentuk disalai, digoreng, atau digulai. 




Namun, ada dua jenis olahan istimewa dari Ikan Tamban di kota kami. Ikan ini menjadi lauk yang tak boleh dipisahkan dengan makanan yang bernama Nasi Lemak ( beras yang dimasak dengan santan kelapa, lengkuas, cengkeh, dan sebagainya). Ikan Tamban Masak Pedas nama olahan dari masakan ini. Satu  lagi olahan dari Tamban yaitu “Sambal Lengkong” yaitu sambal bertekstur halus serta basah yang dibuat dengan cara mengukus Ikan Tamban sampai matang. Lalu menghaluskan daging-daging ikan serta memisahkan tulang-tulangnya. Dimasak dengan santan kelapa, cabai, bawang merah, lengkuas, dan berbagai rempah lainnya. Hingga menghasilkan sebuah sambal yang memiliki rasa manis, lemak, dan pedas. Sambal Lengkong biasanya dimakan dengan ketupat ( beras yang dimasak didalam daun kelapa berbentuk persegi ). Olahan Tamban lainnya  seperti dijadikan campuran kuah Laksa / Lakse ( makanan yang berbahan dasar sagu yang disajikan dengan kuah pedas ). 

Tak kenal musim tak putus kehadirannya ikan ini di kota kami. Para nelayan dapat menjaringnya di laut setiap hari. Terkadang berhenti sejenak disebabkan oleh cuaca buruk serta angin. Tamban menjadi lauk bagi kami kala pendapatan bulanan kami mulai menipis. 

Bagi mereka di perantauan, Tamban adalah kerinduan untuk mengecap kembali cita rasa tanah kelahirannya. Menjadi sumber rezeki bagi para penjajanya meski jarak yang ditempuh untuk menjualnya tak sebanding dengan keringat, lelah, dan kehidupan  yang mereka terima.

Sebuah catatan
Dabo Singkep, Mei 2017


No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi blog saya...
silahkan tinggalkan komentar anda, yang berhubungan dengan artikel yang dibahas.
No sara / pornografi.

Popular Posts

Favorite

Langitanisa's bookshelf: read

Naruto, Vol. 01: The Tests of the Ninja
Love in the Time of Cholera
Lust for Life
The Mysterious Howling
Misteri Lemari Antik
Absolute Boyfriend, Vol. 01
Famous Five 16: Five Go To Billycock Hill
With This Ring
Warm Bodies
Christmas Stories
Golden Book
The Invention of Hugo Cabret
The Five Orange Pips
Death Note, Vol. 7: Zero
Death Note, Vol. 1: Boredom
Death Note, Vol. 5: Whiteout
Death Note, Vol. 8: Target
Bleach Volume 01: Strawberry and the Soul Reapers
Death Note, Vol. 2: Confluence
A Study in Scarlet

Kabarlingga.com