Wednesday, August 23, 2017

Al-Qur’an : Sejarah dan Penerjemahannya






 “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis.”
( QS.  Al-Qalam : 1 )

Jika ditanya apa yang saya ketahui tentang Al-Qur’an, saya hanya bisa menjawab Al-Qur’an terdiri atas 30 juz , banyak surat serta ayat-ayat didalamnya. Informasi bersifat umum saja yang saya ketahui dari Al- Qur’an. Dengan pengetahuan terbatas dan seadanya ini  didalam pikiran saya, saya memutuskan untuk menulis tentang Al-Qur’an dan sejarahnya berdasarkan sebuah sumber yang saya baca. Mungkin juga ada banyak diantara kita yang hanya mengetahuinya Al-Qur’an sama seperti diri saya. Mari kita bersama-sama mengenal lebih dekat Al-Qur’an dan apa yang sebenarnya terdapat didalamnya.


 Arti Kata Al-Qur’an
Quraan” menurut bahasa berarti bacaan. Adapun definisi Al-Qur’an adalah kalam Allah swt. yang merupakan mukjizat yang diturunkan ( diwahyukan ) kepada Nabi Muhammad saw.
Didalam Al-Qur’an sendiri pemakaian kata “Quraan” dapat dijumpai di beberapa surat Al-Qur’an. Seperti Surat Al-Israa’ ayat 88, Al - Baqarah ayat 85, Al-Hijr ayat 87, Thaaha ayat 2, An-Naml ayat 6, dan sebagainya.

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an,
maka dengarkanlah ( baik-baik ) dan
perhatikanlah dengan tenang, agar kamu mendapat rahmat.”
( QS.  Al-A’raaf : 204 )

“Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya ( di dadamu )
dan ( membuatmu pandai ) membacanya.”
( QS.  Al-Qiyaamah : 17 )

Pembagian Al-Qur’an
Sejak zaman sahabat Nabi saw. telah ada pembagian Al-Qur’an menjadi 1/2, 1/3, 1/5, 1/7, 1/9, dan sebagainya.  Tetapi hanya untuk sekedar hafalan, dan tidak ditulis didalam Al-Qur’an atau di  pinggirnya. Barulah pada masa Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi diadakan penulisan didalam / di pinggir Al-Qur’an dan ditambah dengan istilah-istilah baru.
Salah satu cara pembagian Al-Qur’an itu ialah menjadi 30 juz, 114 surat, dan 60 hizb.

Surat-Surat Dalam Al-Qur’an
Jumlah surat yang terdapat didalam Al-Qur’an ada 114 surat. Nama-nama dan batas-batas tiap surat serta susunan ayat-ayatnya adalah menurut ketentuan yang ditetapkan dan diajarkan oleh Nabi saw. sendiri.
Sebagian dari surat-surat Al-Qur’an mempunyai satu nama, dan sebagian yang lain mempunyai lebih dari satu nama. Seperti Surat Qaf yang dinamai juga Surat Al Baasiqaat, Surat Az-Zumar yang dinamai juga Surat Al-Ghuraf, atau Surat Al-Faatihah yang dinamakan juga Ummul Quraan, Ummul Kitaab atau As Sab’ul Matsaany.


Surat-surat yang ada dalam Al-Qur’an ditinjau dari segi panjang dan pendeknya surat terbagi menjadi 4 bagian, yaitu :

Assab’uththiwaal
Ialah 7 surat yang panjang, terdiri dari: Surat Al Baqarah, Ali Imran, An Nisaa’, Al A’raaf, Al An’aam, Al Maidah, dan Yunus.

Al Miuun
Ialah surat-surat yang berisi kira-kira 100 ayat lebih, seperti : surat Hud, Yusuf, Al-Mu’min, Thaha, dan sebagainya.

Al Matsaani
Ialah surat-surat didalam Al-Qur’an yang berisi kurang dari 100 ayat, seperti : Al-Anfaal, Al-Hijr, An-Nuur, dan sebagainya.

Al Mufashshal
Ialah surat-surat pendek didalam Al-Qur’an, seperti Ad-Dhuha, Al-Ikhlas, An-Naas, Al-Falaq, dan sebagainya.

Ayat-Ayat Al-Qur’an
Jumlah ayat yang terdapat didalam Al-Qur’an sebanyak 6.236 ayat. Ditinjau dari segi masa turunnya, maka ayat-ayat dalam Al-Qur’an dibagi menjadi 2 kelompok :

Ayat-Ayat Makkiyyah
 Adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan di Mekkah atau sebelum Nabi Muhammad saw. hijrah ke Madinah. Ayat-Ayat Makkiyyah pada umumnya pendek-pendek,  ayat-ayatnya berisi hal-hal yang berhubungan dengan keimanan, ancaman dan pahala, serta kisah-kisah umat yang terdahulu yang mengandung pengajaran dan budi pekerti. Dalam surat-surat Makiyyah banyak sekali terdapat perkataan “ Ya Ayyuhannaas” dan sedikit sekali terdapat perkataan “Ya ayyuhallazinaamanu.” Surat Makkiyyah merupakan 19/30 dari isi Al-Qur’an yang jumlah ayatnya 4.780 ayat.

Ayat-Ayat Madaniyyah
Yaitu ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan di Madinah atau sesudah Nabi Muhammad saw. hijrah ke Madinah. Ayat-Ayat Madaniyyah pada umumnya panjang-panjang,  ayat-ayatnya mengandung hukum-hukum, baik yang berhubungan dengan hukum adat, atau hukum-hukum duniawi, seperti hukum kemasyarakatan, hukum ketatanegaraan, hukum perang, hukum internasional, hukum antar agama, dan lain-lain. Dalam surat-surat Makiyyah banyak sekali terdapat perkataan “Ya ayyuhallazinaamanu” dan sedikit sekali terdapat perkataan “Ya Ayyuhannaas.” Surat Makkiyyah merupakan 11/30 dari isi Al-Qur’an yang jumlah ayatnya 1.456 ayat.
Pada juz ke 28 seluruhnya termasuk surat Madaniyyah, kecuali surat ( 60 ) Mumtahinah, ayat-ayatnya berjumlah 137, sedang juz 29 ialah Makkiyyah kecuali surat ( 76 ) Ad-Dahr, ayat-ayatnya berjumlah 431. Surat Al-Anfaal dan Surat As-Syu’araa masing-masing merupakan setengah juz, tetapi yang pertama termasuk kedalam surat Madaniyyah dengan bilangan ayat sebanyak 75 ayat. Sedangkan yang kedua adalah Surat Makkiyyah dengan ayatnya yang berjumlah 227 ayat.

Huruf-Huruf Hijaiyah yang Terdapat Pada Permulaan Surat Dalam Al-Qur’an
Didalam Al-Qur’an terdapat 29 surat yang dimulai dengan huruf-huruf hijaiyah, yaitu :
Al-Baqarah, Ali Imran, Al-A’raaf, Yunus, Hud, Yusuf, Ar-Ra’ad, Ibrahim, Al-Hijr, Maryam
Thaaha, Asy-Syu’aara, An-Naml, Al-Qashash, Al-‘Ankabuut, Ar-Ruum, Lukman, As-Sajdah, Yasin, Shaad,
Al-Mu’min, Fushshilat, As-Syuura, Az-Zuchruf, Ad-Duchaan, Al-Jaatsiyah, Al-Ahqaaf, Qaaf, dan Al-Qalam ( Nuun ).
Huruf-huruf hijaiyah yang terdapat pada permulaan tiap-tiap surat tersebut dinamakan “Fawaatihushshuwar” artinya pembukaan surat-surat.

Nama-Nama Al-Qur’an
Allah swt. memberi nama kitab-Nya dengan nama Al-Qur’an yang berarti bacaan. Selain Al-Qur’an, Allah swt. juga memberi beberapa nama lain bagi kitab-Nya seperti :

Al-Kitaab / Kitabullah
Merupakan sinonim dari perkataan Al-Qur’an.
“ Kitab ( Al-Qur’an ) ini tidak ada keraguan padanya.....”
( QS.  Al-Baqarah : 2 )

Al-Furqaan
Artinya pembeda, yang membedakan yang benar dan yang batil.
“ Maha Agung ( Allah swt. ) yang telah menurunkan Al-Furqaan kepada hamba-Nya,
Agar ia menjadi peringatan kepada seluruh alam.”
( QS.  Al- Furqaan : 1 )

Az-Zikr
Artinya peringatan.
“ Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan “Az-zikr”
Dan sesungguhnya Kamilah penjaganya “
( QS.  Al- Hijr : 9 )
Selain dari nama-nama tersebut, terdapat beberapa nama lagi bagi Al-Qur’an.


SEJARAH AL-QUR’AN
“ Bacalah, dan Tuhanmu amat mulia. Yang  telah mengajar dengan pena.
Dia telah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
( QS.  Al- ‘Alaq : 3 - 5 )


Pada permulaan Islam, bangsa Arab adalah satu bangsa yang buta huruf, amat sedikit diantara mereka yang pandai menulis dan membaca. Mereka belumlah mengenal yang namanya kertas.  Kitab atau buku tentang apapun juga belum ada pada mereka. Kata-kata “kitab”  di masa itu hanyalah berarti sepotong kulit, batu, tulang binatang, dan sebagainya yang telah berisi tulisan. Tiap-tiap ayat yang diturunkan, Nabi saw. menyuruh para sahabat untuk menghafalkannya dan menuliskannya di batu, kulit binatang, pelepah kurma, dan apa saja yang bisa digunakan untuk media tulisan. Dan Nabi saw.menerangkan bagaimana ayat-ayat itu harus disusun sebagaimana mestinya. Nabi saw. juga membuat peraturan bahwa hanya Al-Qur’an yang boleh dituliskan, sedangkan hadis-hadis dilarang menuliskannya. Hal tersebut dimaksudkan agar Al-Qur’an selalu terpelihara dan tidak berampur aduk dengan yang lain.

Masih sedikitnya orang-orang muslim yang bisa membaca dan menulis, maka pada peperangan Badar, orang-orang musyrik yang ditawan oleh Nabi saw. yang tidak bisa menebus dirinya dengan uang tetapi mereka yang pandai membaca dan menulis, sebagai ganti tebusannya diharuskan mengajar 10 orang muslim menulis dan membaca. Dengan cara seperti itu, semakin banyak orang-orang muslim yang bisa menulis dan menghafal ayat-ayat Al-Qur’an.
Nabi saw. sendiri memiliki beberapa penulis yang bertugas menuliskan Al-Qur’an untuk beliau. Penulis-penulis beliau yang paling terkenal adalah : Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, dan Mua’wiyah.

Dengan demikian terdapat 3 unsur dalam tujuan pemeliharaan Al-Qur’an di masa Nabi saw. yaitu : hafalan dari mereka yang hafal akan isi Al-Qur’an, naskah-naskah yang ditulis untuk Nabi saw., dan naskah-naskah yang ditulis oleh mereka yang pandai menulis dan membacanya untuk mereka masing-masing.
Nabi saw. dan para sahabat sering melakukan mengulang-ulangi hafalan ayat-ayat Al-Qur’an. Para sahabat akan membacakan Al-Qur’an dihadapan beliau, untuk membetulkan hafalan dan bacaan mereka. Nabi saw. pun sendiri melakukan mengulang-ulang hafalan hafalan ayat-ayat Al-Qur’an di hadapan malaikat Jibril setahun sekali. Pada tahun Nabi saw. wafat, malaikat Jibril mengadakannya dua kali dalam satu tahun.

Nabi saw. wafat  di waktu Al-Qur’an telah cukup diturunkan, telah dihafal oleh ribuan manusia, dan telah dituliskan semua ayat-ayatnya. Setelah Nabi saw. wafat, bangsa Arab mulai mengenal yang namanya kertas, setelah mereka menaklukkan negeri Persia.

Cara – Cara Al-Qur’an Diwahyukan
Nabi Muhammad saw. dalam hal menerima wahyu  ( Al-Qur’an ) mengalami bermacam-macam cara dan keadaan diantaranya :
Malaikat memasukkan wahyu itu kedalam hatinya. Dalam hal ini Nabi saw. tidak melihat sesuatu apapun, beliau hanya merasa bahwa wahyu itu sudah berada dalam kalbunya.
“Ruhul Qudus mewahyukan kedalam kalbuku.”
( QS. Asy-Syuuraa : 51  )

Malaikat Jibril menampakkan dirinya kepada Nabi saw. berupa seorang laki-laki yang mengucapkan kata-kata kepadanya sehingga beliau mengetahui dan hafal benar akan kata-kata ( ayat-ayat ) itu.
Malaikat Jibril menampakkan dirinya kepada Nabi saw. dengan wujud aslinya dan menyampaikan wahyu tersebut kepada beliau.
“ Padahal sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu ( dalam rupanya yang asli )
Pada waktu yang lain. yaitu di Sidratul Muntaha.
( QS. An- Najm : 13 - 14  )


Wahyu tersebut datang seperti suara gemerincingnya lonceng. Cara ini adalah cara yang teramat berat dirasakan Nabi saw. dari semua cara penyampaian wahyu. Terkadang dahi Nabi saw. berkeringat, meski turunnya wahyu itu di musim yang dingin. Terkadang unta yang ditunggangi oleh Nabi saw. terpaksa berhenti dan duduk karena merasa amat berat, bila wahyu itu turun ketika Nabi saw. sedang mengendarai unta.

Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit, “Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah saw. Aku lihat Rasulullah saw. ketika turunnya wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam yang tinggi dan keringatnya bercucuran seperti permata. Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau kembali seperti biasa.”

Hikmah Diturunkan Al-Qur’an Secara Berangsur-Angsur
“ Berkatalah orang-orang kafir,
“Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?”
Demikianlah, supaya Kami perkuat hatimu dengannya
dan Kami ( menurunkannya ) kelompok demi kelompok.”
( QS. Al - Furqaan : 32  )

Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari. Hikmah diturunkan Al-Qur’an secara berangsur-angsur yaitu :
Agar lebih mudah dimengerti dan dilaksanakan oleh umat muslim. Umat akan merasa enggan melaksanakan segala perintah dan larangan jika ayat-ayat Al-Qur’an tersebut turun begitu banyak dan sekaligus. Hal ini disebutkan juga didalam hadis Bukhari dari riwayat Aisyah ra.

Turunnya sesuatu ayat sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi untuk memperkuat dan berpengaruh pada jiwa umat muslim.

Memudahkan dalam hal penghafalan.

Diantara ayat-ayat ada yang merupakan jawaban dari pertanyaan atau penolakan suatu pendapat / perbuatan. Seperti perkataan Ibnu Abbas ra., hal ini tidak dapat terlaksana kalau  Al-Qur’an diturunkan sekaligus.




AL-QUR’AN PADA MASA KEKHALIFAHAN
Al-Qur’an Pada Masa Abu Bakar ra. &  Umar bin Khatab ra.
“ Demi Allah swt ! Ini adalah pekerjaan yang berat bagiku.
Seandainya aku diperintahkan untuk memindahkan sebuah bukit,
maka hal itu tidaklah lebih berat bagiku daripada
mengumpulkan Al-Qur’an yang engkau perintahkan itu.”
(  Zaid bin Tsabit  )

Sesudah Rasulullah saw. wafat, para sahabat dari golongan Anshar dan Muhajirin sepakat  mengangkat Abu Bakar ra. menjadi khalifah. Pada masa Abu Bakar ra. menjadi khalifah banyak diantara orang-orang islam yang kuat imannya menjadi murtad. Maka terjadilah peperangan yang hebat untuk memerangi mereka dan pengikut-pengikut orang yang mengaku dirinya nabi setelah Rasulullah Saw. wafat. Diantara perang-perang yang terjadi, yang paling terkenal adalah “ Perang Jamamah “. Banyak para penghafal Al-Qur’an yang tewas dalam perang ini.

Oleh karena rasa khawatir akan semakin sedikitnya jumlah penghafal Al-Qur’an serta untuk selalu memelihara keutuhan Al-Qur’an tersebut, maka Umar bin Khatab ra. menemui Abu Bakar ra. Untuk membicarakan rencana pengumpulan Al-Qur’an. Dalam beberapa hadis dan tafsir kita dapat menemui percakapan tersebut yang terjadi antara Abu Bakar ra., Umar bin Khatab, dan Zaid bin Tsabit. Maka tugas untuk mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an dari pelepah kurma, kulit serta tulang binatang dan sebagainya dan dari sahabat-sahabat yang hafal Al-Qur’an diserahkan kepada Zaid bin Tsabit. Zaid bin Tsabit adalah salah satu penulis naskah Al-Qur’an yang diperuntukkan untuk Nabi saw. semasa beliau hidup.

Al-Qur’an pun mulai seluruhnya ditulis oleh Zaid bin Tsabit didalam lembaran-lembaran, diikatnya dengan benang, tersusun menurut urutan ayat-ayatnya yang ditetapkan oleh Rasulullah saw. kemudian diserahkan kepada  Abu Bakar ra. Mushhaf ini tetap di tangan Abu Bakar ra. sampai ia meninggal. Kemudian dipindahkan ke rumah Umar bin Khatab ra. dan berada disana selama masa pemerintahannya. Sesudah beliau wafat, Mushaf ini dipindahkan ke rumah Hafsah, anak perempuan Umar bin Khatab ra., salah satu istri Rasulullah saw. sampai masa pengumpulan dan penyusunan Al-Qur’an di masa khalifah Utsman bin Affan ra.

Al-Qur’an Pada Masa Utsman bin Affan ra.
“ Susullah umat islam itu
Sebelum mereka berselisih tentang Al-Kitab,
Seperti perselisihan antara orang Yahudi dan Nasrani.”
( Huzaifah bin Yaman )

Di masa kekhalifan Utsman bin Affan ra. ajaran Islam  telah berkembang menguasai banyak negara seperti Tripoli, Mesir, Persia, bahkan Afrika. Kaum muslim pun tak hanya bertempat tinggal di negara Arab, tetapi berpencar ke berbagai belahan dunia. Namun, al-qur’an yang menjadi kitab suci umat islam tersebut masih berupa naskah-naskah yang mereka miliki masing-masing berbeda susunan surat-suratnya. Selain itu, diantara mereka terjadi perselisihan tentang bacaan Al-Qur’an tersebut.
Perselisihan itu terjadi disebabkan karena Rasulullah saw. sendiri pun memberi kemudahan kepada kabilah-kabilah Arab semasa beliau hidup untuk membaca dan melafazkan Al-Qur’an menurut dialek mereka masing-masing. Perselisihan yang jika tidak dicari penyelesaiannya akan mendatangkan perpecahan di kalangan umat muslim.

Huzaifah bin Yaman pun menemui khalifah Utsman bin Affan ra. untuk membicarakan dan mencari jalan keluar atas masalah ini. Utsman bin Affan ra. meminta lembaran-lembaran ayat Al-Qur’an  ( Mushhaf ) yang disimpan oleh Hafsah binti Umar bin Khatab ra.untuk diberikan kepadanya.
Selanjutnya,  Utsman bin Affan ra. membentuk panitia yang bertugas membukukan Al-Qur’an dengan mengambil pedoman kepada bacaan mereka yang hafal Al-Qur’an dan bacaan Al-Qur’an haruslah dituliskan menurut dialek suku Quraisy ( Arab ), sebab Al-Qur’an tersebut diturunkan menurut dialek mereka. Panitia yang bertugas membukukan Al-Qur’an ini terdiri dari : Zaid bin Tsabit sebagai ketua, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin ‘Ash, dan Abdur Rahman bin Haris bin Hisyam.

Maka pengerjaan membukukan Al-Qur’an pun dimulai. Setelah tugas ini selesai, maka lembaran-lembaran ayat Al-Qur’an  ( Mushhaf ) yang dipinjam dari Hafsah binti Umar bin Khatab ra. dikembalikan kepadanya.
Al-Qur’an  yang telah dibukukan di masa kekhalifan Utsman bin Affan ra. dinamakan “Al Mushhaf” dan ditulis sebanyak 5 buah. Empat diantaranya dikirim ke Mekah, Syria, Basrah, dan Kufah. Dengan tujuan di tempat-tempat tersebut disalin kembali dari Mushhaf itu. Satu sisanya di Madinah untuk khalifah Utsman bin Affan ra. sendiri, yang kemudian mushhaf ini dinamakan “ Mushhaf Al Imam.” Al-Qur’an inilah yang dipakai hingga sekarang.








PENERJEMAHAN AL-QUR’AN
Terjemahan Al-Qur’an kedalam Bahasa Asing
Sebelum berkembangnya bahasa-bahasa Eropa modern, maka bahasa yang berkembang di Eropa saat itu adalah bahasa Latin. Oleh karena itu tidak mengherankan Al-Qur’an diterjemahkan pertama kali dalam bahasa Latin. Penerjemahan Al-Qur’an itu dilakukan untuk keperluan biara Clugni kira-kira pada tahun 1145 ( sekitar abad ke 6 Hijriyah ). Terjemahan itu baru diterbitkan pada tahun 1543, yang tempat terbitnya adalah Basle dengan nama penerbitnya Bibliander.

Dari bahasa Latin inilah kemudian  Al-Qur’an diterjemahkan kedalam bahasa Italia, Jerman, dan Belanda.  Al-Qur’an diterjemahkan kedalam bahasa Jerman oleh Schweigger yang tempat terbitnya di Nurenberg ( Bavaria ) pada tahun 1616. Diterjemahkan kedalam bahasa  Prancis dilakukan oleh Du Ryer di Paris pada tahun 1647, kedalam bahasa Rusia diterbitkan di St.Petersburg pada tahun 1776.  Diterjemahkan kedalam bahasa Prancis oleh Savari yang diterbitkan pada tahun 1783,  dan oleh Kasimirski yang diduga dalam bahasa Prancis, pada tahun 1840. Terjemahan ini terbit beberapa kali. Perhatian Prancis kepada Islam ini disebabkan mereka menduduki Aljazair dan Afrika Utara pada waktu itu.

Kemudian menyusul terjemahan-terjemahan kedalam bahasa Jerman oleh Boysen pada tahun 1773, Wahl pada tahun 1828, dan Ullmann pada tahun 1840. Terjemahan Al-Qur’an kedalam bahasa Inggris pertama kali dilakukan oleh A.Ross yang menerjemahkan Al-Qur’an yang diterjemahkan oleh Du Ryer, dan diterbitkan beberapa tahun kemudian setelah bukunya Du Ryer.
 Pada tahun 1689, Maracci, seorang roma katolik menerjemahkan Al-Qur’an kedalam bahasa Latin dengan menyertakan beberapa nukilan dan tafsiran Al-Qur’an. Terjemahan Al-Qur’an versi  Maracci ini mengandung kesan buruk untuk menjatuhkan islam dan kitab suci umat islam tersebut.
Bahkan, kata pengantar didalam terjemahannya terdapat bantahan terhadap isi Al-Qur’an. Pada tahun 1734, George Sale menerbitkan sebuah terjemahan Al-Qur’an yang didasarkan pada Al-Qur’an yang diterjemahkan oleh Maracci. Terjemahan inilah yang dicetak berkali-kali kedalam bahasa Inggris dan dianggap sangat baik terjemahannya. Berbanding terbalik bagi umat Islam itu sendiri, Maracci tidak memahami keindahan dan keanggunan gaya bahasa Al-Qur’an. Banyak orientialis-orientalis barat yang menerjemahkan Al-Qur’an namun tidak mengerti sama sekali bahasa Al-Qur’an itu sendiri. Seperti: J.M.Rodwell, dan E.H.Palmer.

 Karena hal itu, maka para penulis-penulis muslim berusaha untuk  menerjemahkan Al-Qur’an kedalam bahasa Inggris. Sarjana muslim yang pertama melakukannya adalah Dr.Muhammad Abdul Hakim Khan dari Patiala pada tahun 1905. Kemudian Mirza Hairat dari Delhi di terbitkan di Delhi pada tahun 1919. Nawab Imadul Mulk Sayid Husain Bilgrami dari Hyderabad Dekkan, tetapi ia meninggal sebelum selesai menerjemahkannya. Ahmadiyah Qadiani menerjemahkan bagian pertama dari Al-Qur’an pada tahun 1915, dan juga menerbitkan  dari Maulvi Muhammad Ali yang pertama terbit pada tahun 1917. Terjemahan ini adalah terjemahan ilmiah yang diberi catatan-catatan yang luas, pendahuluan, dan indeks yang cukup.  Dari segi bahasa, kurang menarik bagi mereka yang tidak mengerti bahasa Arab karena keterbatasan dalam bahasa inggris.

Tahun 1930 atau 1929 Hafiz Ghulam Sarwar menerbitkan juga kedalam bahasa inggris. Dalam terjemahannya itu, ia memberikan ringkasan pada surat-surat  Al-Qur’an bagian demi bagian tetapi ia tidak memberikan catatan kaki yang cukup pada terjemahannya. Marmaduke Pickthall, seorang muslim yang berkewarganegaraan Inggris menerjemahkan Al-Qur’an dan diterbitkan pada tahun 1930. Hasil terjemahannya cukup baik akan tetapi ia sedikit sekali memberikan catatan kaki untuk menerangkan  ayat-ayat Al-Qur’an.

“ Dan jika kamu ( tetap ) dalam keraguan tentang Al-Qur’an
Yang kami wahyukan kepada hamba Kami ( Muhammad ),
Buatlah satu surat ( saja ) yang semisal Al-Qur’an itu
Dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah,
Jika kamu orang-orang yang memang benar.”
  ( QS.  Al- Baqarah : 23 )

***
Semoga postingan yang saya bagikan ini bisa menambah sedikit wawasan kita semua tentang Al-Qur’an. Sampai bertemu di postingan berikutnya. Salam......

Sumber :
Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahan Juz 1-10. 1965. Jakarta : Yamunu






  













No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi blog saya.
Silahkan tinggalkan komentar anda yang berhubungan dengan artikel.
No sara / pornografi.

Dabo Singkep

Welcome To Dabo Singkep Island

Sudah pernahkah kamu   mendengar sebuah pulau   bernama Dabo Singkep? Bagi yang sudah mendengarnya, mereka akan tahu dimana letak pu...