Friday, April 20, 2018

Sejarah, Simbol, dan Makna Bunga Dalam Berbagai Lukisan: Bagian 2 – Tulip






 
Ada begitu banyak bunga Tulip yang tumbuh liar di seluruh Eropa dan Asia - mereka mungkin adalah bunga Lili alkitabiah di ladang yang mengalahkan Solomon dalam semua kemegahannya.

Tulip muncul begitu luas di lukisan bunga abad ke-17, adalah jenis bunga Tulip hasil dari proses pencangkokan yang rumit, awalnya dibudidayakan di taman-taman sultan Turki. Tulip ini dikenal sebagai “Tulip Ottoman” dan memiliki kelopak bunga dengan ujung yang sangat runcing.
Seorang Duta Besar Austria untuk Istanbul, bernama Ogier Busbecq, berhutang budi dengan membawa mereka ke Eropa pada tahun 1556 bersama dengan nama mereka. Tulip artinya “turban” dan mengacu pada bentuk bunganya, tapi nyatanya orang Turki menyebut mereka bunga Lili.

Pada awal lukisan, bentuk oriental ini (masih dikenal sebagai bunga Lili) muncul disamping Tulip yang lebih bundar yang dikagumi di Eropa - satu deskripsi mengatakan “Tulip yang sempurna harus tegak lurus pada tangkainya seperti piala.”

Bahkan yang lebih menarik bagi para kolektor dan pelukis adalah warna kelopak Tulip yang begitu hidup. Sebuah virus dapat menyebabkan warna Tulip yang rusak berubah menjadi pola yang menarik. Seorang ahli tanaman asal Eropa, yang dipimpin oleh ahli botani Belanda, Clusius, membiakkan dan mengklasifikasikannya pada awal abad ke-17, kombinasi warna yang berbeda muncul dalam lukisan, yang disusun dalam vas bunga yang luar biasa.

Kenyataannya, sang seniman akan membuat studi individual masing-masing bunga dan kemudian melukiskan pengaturan buatan yang paling baik untuk menampilkan bentuk dan warnanya. Mawar, Tulip berwarna merah dan putih; Bizarres berwarna merah atau ungu dan kuning, dan Bloemens berwarna ungu dan putih.

Tulip dalam kelompok-kelompok ini dibedakan oleh tanda-tanda mereka dan diberi nama aristokrat - yang paling terkenal adalah Semper Augustus - dan dikoleksi di seluruh Eropa. Harganya naik karena Tulip jenis ini adalah langka. Di Belanda fenomena “tulipmania” mengambil alih.

 Bunga Tulip diperdagangkan untuk mendapatkan keuntungan, dilelang bahkan di kedai minum, di pasar yang sedang demam yang mengandalkan kredit dan kepercayaan diri. Kecelakaan itu terjadi pada 1637, ketika Tulip menjadi isu moral dan peringatan mengerikan tentang kapitalisme. Tetapi kecantikan mereka tidak dibatasi dan terus dirayakan dalam lukisan bertemakan Still Lifes.

Sebuah perkumpulan yang bernama “The Wakefield Tulip Society” masih menumbuhkan Tulip bergaris tradisional yang memiliki warna rusak yang disebabkan oleh virus. Bunga tulip tersebut dapat dipertukarkan diantara anggota dan dipamerkan, tetapi tidak dijual karena peraturan EC tentang penyakit tanaman.



 Still Life with Flowers
Georg Flegel
Fitzwilliam Museum, University of Cambridge

Undated
22.5 x 15 cm
oil on panel

Georg Flegel memperlihatkan kepada kita dengan begitu jelas pada lukisan ini apa yang disebut “Vanitas,” salah satu ilustrasi keindahahan duniawi dan harta karun yang sekejap dan mempercayai mereka  adalah kepalsuan.

Koin-koin dan kerang laut disamping vas adalah harta karun duniawi yang kita simpan. Tengkorak pada vas menitikberatkan bahwa bunga, meskipun indah, akan layu dan mati.

Kacang  pada  latar depan lukisan tersebut memiliki arti masing-masing. Mereka berpikir akan menjadi biji buah Jarak, sesungguhnya akan menjadi racun jika tidak dimasak dengan baik dan mereka juga sebuah pengingat akan kematian. Tetapi karena kacang dapat menyebabkan angin selama proses pencernaan makanan  dalam perut, kacang  juga bisa menjadi sebuah sindiran akan adanya kehidupan kedua atau kehidupan setelah kematian.



 
Flowers in a Glass Vase
Ambrosius Bosschaert the Elder
National Gallery, London

1614
26 x 20 cm
oil on copper

Bunga-bunga ini pada kenyataannya tidak pernah muncul secara bersama. Mereka mekar dalam musim berbeda. Dan barang-barang berharga seperti karangan bunga dilarang pada abad ke-17 di Belanda.

Di puncak karangan bunga ada bunga Tulip putih dengan garis-garis merah. Tanda-tanda yang dicari pada Tulip ini merupakan ciri khas dari Semper Augustus, Tulip paling mahal yang pernah dijual. Pada  abad ke-17 bunga Tulip dihargai sangat mahal, harga satu Tulip jenis  Semper Augustus setara dengan biaya sekitar empat belas lukisan Bosschaert.

Bosschaert ingin memberi tahu kita  bahwa kecintaan duniawi pada bunga-bunga adalah sebuah kefanaan. Sebuah perasaan melalui keindahan dan pembusukan,  akan terbawa terbang pada latar depan lukisan, oleh seekor ulat bulu, yang berjalan pada batang Tulip merah dan kuning, siap untuk memakannya.


 
Basket of Flowers with Sea Shells
Gillis de Berg
Bowes Museum, Castle Barnard, Co Durham

Undated
38 x 47.7 cm
oil on panel

Susunan ini termasuk bunga Mawar dan Peony berdampingan dengan bunga Tulip, yang begitu saja disusun dalam sebuah keranjang anyaman diatas sebuah meja.

Tema keteguhan dari singkatnya kehidupan diilustrasikan disini, bukan hanya kesederhanaan dari singkatnya bunga mekar—seekor capung melayang di atas bunga-bunga.  Seekor capung digunakan pada tema ini karena siklus hidup mereka yang sungguh singkat.

Kerang-kerang laut dengan bentuk dan warna yang eksotis, seperti pada latar depan, adalah hadiah yang tak ternilai di awal abad ke-17.  Republik Belanda yang sedang berkembang,membuat orang-orangnya memiliki rasa ingin tahu untuk membeli barang-barang dari negeri yang jauh.







Ini adalah versi lukisan dari Kingslan & Gibilisco Studio dari Master Seniman Tua Belanda, Bosschaert, sebuah variasi buket, terdiri dari bunga Columbine, Tulip dan Peony, telah tersusun rapi di sebuah vas kecil Wan-Li. Warna-warna cerah dari kelopak bunga yang berdiri keluar dengan latar belakang gelap. Sekuntum  tulip dan setangkai Cyclamen berbaring di samping vas bunga. Juga terdapat serangga pada beberapa bunga. 

Alasan Bosschaert untuk melukis buket ini tidak semata-mata karena alasan estetis. Bunga Tulip yang berwarna merah seperti api sangat eksotis di abad ke-17, dan karena itu sangat mahal. Penggambaran Bosschaert tentang bunga tersebut yang penuh dengan hama mungkin dimaksudkan sebagai “Vanita” dan terkait dengan kata “Vanity” (  kepalsuan, congkak, batil ) dan  kefanaaan. Istilah ini mengacu pada ayat pembukaan “Pengkhotbah/ Ecclesiastes” dalam Alkitab Latin yaitu “Vanitas Vanitatum, Omnia Vanitas” yang memiliki arti, “kesombongan dari kesombongan, semuanya adalah kebatilan.” 

Lukisan Belanda abad ke-17 sering menampilkan simbol  kefanaan, terutama lukisan yang bertema Still lifes. Tengkorak, jam pasir, lilin yang padam dan unsur-unsur serupa mengacu pada evanescence/kehilangan pandangan. Lukisan Vanitas dimaksudkan untuk mengingatkan pada yang melihat lukisan tersebut tentang betapa singkatnya kehidupan dan itu harus dijalani dengan memperhatikan hukum-hukum Tuhan. Lukisan ini mengacu pada keindahan dan kekayaan yang hanya sekejap saja.

Sumber : kingslan.com/newsletters/tulipmeaning.pdf

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi blog saya.
Silahkan tinggalkan komentar anda yang berhubungan dengan artikel.
No sara / pornografi.

Dabo Singkep

Welcome To Dabo Singkep Island

Sudah pernahkah kamu   mendengar sebuah pulau   bernama Dabo Singkep? Bagi yang sudah mendengarnya, mereka akan tahu dimana letak pu...