Friday, March 29, 2013

Nasiruddin Hoja dan Seekor Keledai





Pada masa kecilnya Nasiruddin sering diajak pergi oleh ayahnya. Suatu masa, Nasiruddin diajak jalan-jalan ke kota. Kala itu Nasiruddin  duduk di atas keledai muda, sementara ayahnya berjalan di samping sambil memegangi tali kekangnya.
Tak lama berjalan, anak - bapak itu berpapasan dengan sekelompok orang yang sedang duduk di pinggir jalan.
 Melihat Nasiruddin dan ayahnya, mereka berkata :


“Dasar anak tak tahu sopan, sungguh tega, dia  asyik duduk di atas pelana, sementara sang ayah di suruh jalan kaki mengiringinya.”

Mendengar sindiran itu, Nasiruddin merasa tak enak hati, lalu buru-buru turun mempersilahkan sang ayah ganti naik keledai tunggangan.
Tak lama berjalan, kembali anak – bapak itu berpapasan dengan beberapa orang  yang sedang menjemur gandum di halaman. Melihat Nasiruddin dan ayahnya, orang-orang itu lantas mencibirnya, 

“Dasar lelaki tua tak punya rasa kasihan. ia dengan senang hati menunggai keledainya, sedangkan anaknya dibiarkan jalan kaki kepayahan di sampingnya.”

Mendengar cibiran itu, sang ayah buru-buru turun dari punggung keledainya, sehingga bapak -anak sama-sama jalan kaki menuntun keledai di sampingnya. Namun, tak lama berjalan, kembali bapak - anak itu berpapasan dengan rombongan orang-orang berkuda.
Saat jumpa, mereka berkata dengan mencela, 

“Dasar anak-bapak bodohnya sungguh terlalu. Punya keledai tak dimanfaatkan jadi alat tunggangan, tetapi malah pilih jalan kaki dengan kepayahan.”

Mendengar celaan mereka, Nasiruddin dan ayahnya segera naik bersama, menunggai keledai secara bersama. Tak berapa lama berjalan, mereka berjumpa lagi dengan serombongan orang di wilayah pedesaan.
Lagi-lagi mereka memberi penilaian, 

“Dasar anak – bapak sama-sama tak punya belas kasihan, tak punya kasih sayang terhadap hewan. Lihat itu, keledainya lelah kepayahan akibat ditunggai berduaan.”

Mendengar cemohan itu, anak-bapak segera turun dari keledai tunggangan, lantas memikul keledai yang kelelahan dengan berduaan. Kembali mereka melewati sekumpulan orang yang kali ini sudah di pinggir perkotaan. Mereka menunjuk-nunjuk Nasiruddin dan bapaknya.
Sambil tertawa mereka berkata:

 “Dasar orang gila, punya keledai tak dijadikan tunggangan, malah di pikul berdua sampai ngos-ngosan ( kelelahan ).”

Akhirnya Nasiruddin dan ayahnya berhenti berjalan, sambil mengelap keringat akibat kelelahan.  Setelah sejenak menarik nafas lalu di hembuskannya, sang ayah berkata kepada Nasiruddin hoja, 

“Ananda, demikianlah manusia, kau tak akan pernah mampu memuaskan mereka.”
Nasiruddin hoja menganggukkan kepala, akur saja.

Sumber :
Mashad, Dhurorudin.2005.Seri Kisah Jenaka Sarat Makna Jilid 2.Jakarta : Erlangga.

1 comment:

  1. Good Story. I,am Just Walking And See You Blog . Great Blog

    ReplyDelete

Terima kasih telah mengunjungi blog saya...
silahkan tinggalkan komentar anda, yang berhubungan dengan artikel yang dibahas.
No sara / pornografi.

Popular Posts

Favorite

Langitanisa's bookshelf: read

Naruto, Vol. 01: The Tests of the Ninja
Love in the Time of Cholera
Lust for Life
The Mysterious Howling
Misteri Lemari Antik
Absolute Boyfriend, Vol. 01
Famous Five 16: Five Go To Billycock Hill
With This Ring
Warm Bodies
Christmas Stories
Golden Book
The Invention of Hugo Cabret
The Five Orange Pips
Death Note, Vol. 7: Zero
Death Note, Vol. 1: Boredom
Death Note, Vol. 5: Whiteout
Death Note, Vol. 8: Target
Bleach Volume 01: Strawberry and the Soul Reapers
Death Note, Vol. 2: Confluence
A Study in Scarlet

Kabarlingga.com