Tuesday, March 18, 2014

Semangat Pantang Menyerah Dalam Kue Bolu Apel





Alkisah, ada seorang perempuan tua yang ingin sekali memakan kue bolu apel. Ia berencana akan membuatnya. Ia mempunyai tepung, gula, dan mentega. Tapi sayang, justru apel lah yang tidak ia miliki.


Si ibu tua itu pergi meninggalkan rumahnya dengan membawa sekeranjang kecil buah prem ( sejenis anggur ) dengan harapan akan dapat ditukarnya dengan apel. Sesampai di pinggir kota, ia bertemu dengan seorang wanita muda yang sedang menyebar gandum dan mempunyai ternak banyak, diantaranya : ayam, angsa, kalkun, dan lain-lain.

Sebagai tukaran ia tidak mendapat apel dari wanita muda ini, karena wanita ini hanya mempunyai sekantung bulu-bulu ternaknya.
“Tidak apa-apa...” kata perempuan itu, maka ditukarnya buah prem dengan bulu-bulu yang sekantung itu.

Bertemu dengan suami istri yang sedang bertengkar memperdebatkan mana yang lebih baik untuk isi bantal kursi, apakah jerami atau kapas. Kata si perempuan tua yang lebih baik adalah bantal yang berisi bulu-bulu. Maka  ditukarkan sekantung bulu-bulu itu dengan sekeranjang bunga-bunga dari suami istri tersebut.




Ibu tua itu pun melanjutkan perjalanannya. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan seorang pemuda yang sedang gelisah karena janji si tukang emas : cincin kekasihnya masih belum selesai dibuat. Si ibu tua menyarankan bagaimana kalau pemuda itu memberikan kekasihnya bunga untuk mengobati hati kekasihnya. Bungalah yang lebih tepat kata ibu tua itu.

Dan jadilah penukaran : si pemuda itu memberikan kalung emasnya untuk sekeranjang bunga, yang akan dipakainya untuk membujuk kekasihnya.

Kalung emas memang masih jauh daripada buah apel, tapi bisa dijual dan uangnya bisa digunakan untuk membeli buah apel, begitulah pikir si ibu tua. 

Niat si ibu tua tersebut tidak terlaksana, ketika ia bertemu dengan keluarga miskin yang sangat membutuhkan uang untuk membeli makanan. 

Karena iba, si ibu tua dengan tulus memberikan kalung emas yang di dapatnya. Sebagai ganti pemberiannya yang begitu berarti, keluarga miskin itu memberikan satu-satunya hewan peliharaan mereka, yaitu seekor anjing.

Anjing malah lebih jauh dari tujuan semula : buah apel. Tapi, si ibu tua dengan penuh keyakinan, ia terus meneruskan perjalanannya. Maka, bertemulah dengan seorang laki-laki tua yang mempunyai banyak pohon apel, tapi merasa kesepian, karena ia tidak mempunyai seorang teman.

Ya, katanya seekor anjing tentu akan lebih baik daripada berpuluh-puluh buah apel, untuk dijadikan seorang teman.   Maka terjadilah penukaran : seekor anjing dengan sekeranjang buah apel.
Si Ibu tua dengan hati gembira segera pulang ke rumah membawa sekeranjang buah apel dan membuat kue bolu apel yang sangat diinginkannya. 

“Jika kita sungguh-sungguh berusaha dan tidak putus asa, tentu tidak akan susah mendapatkan kue bolu apel.” Kata si ibu tua itu, sambil memakan kue yang lezat itu sepuas-puasnya.



*****

^_^  tidak sengaja saya menemukan cerita ini di sebuah buku yang berisi tentang pembicara buku, “cerita yang menarik” begitu kesan pertama saya, tanpa sadar saya habis membacanya.  Lama saya merenung tentang pesan di dalam cerita ini, saya pikir-pikir kembali apa yang dikatakan si ibu tua itu, memang benar sekali dalam hidup, kita tidak boleh berputus asa.

 Dan jalan menuju sebuah cita-cita memang sulit, ada saja rintangan yang menghadang. Meski cita-cita si ibu tua hanyalah sederhana : ingin makan kue bolu apel. 

Di sepanjang jalannya menuju sekeranjang apel, si ibu tua mengalami berbagai rintangan. Namun, berbekal dengan keyakinan hati bahwa ia pasti mendapatkan apa yang dibutuhkannya, ia pun berhasil mendapatkannya : sekeranjang apel. 

Saya berpikir, apa yang terjadi andai si ibu tua mudah menyerah dan langsung kembali pulang setelah mendapatkan seekor anjing ? padahal hanya tinggal selangkah lagi menuju apa yang dicita-citakannya.
Semoga kita terutama saya memiliki semangat dan keyakinan seperti si ibu tua di dalam cerita tersebut untuk melewati tiap rintangan di dalam hidup ini. 

 Dan terkadang jalan menuju cita-cita itu penuh pengorbanan, seperti si Ibu tua yang mengorbankan kalung emas yang berharga demi menolong sesama.

Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan kebaikan yang telah kita kerjakan. Ia akan membayarnya dengan sesuatu yang lebih besar daripada yang kita korbankan. 

Don’t give up for all and keep fight !!!







1 comment:

Terima kasih telah mengunjungi blog saya...
silahkan tinggalkan komentar anda, yang berhubungan dengan artikel yang dibahas.
No sara / pornografi.

Popular Posts

Favorite

Langitanisa's bookshelf: read

Naruto, Vol. 01: The Tests of the Ninja
Love in the Time of Cholera
Lust for Life
The Mysterious Howling
Misteri Lemari Antik
Absolute Boyfriend, Vol. 01
Famous Five 16: Five Go To Billycock Hill
With This Ring
Warm Bodies
Christmas Stories
Golden Book
The Invention of Hugo Cabret
The Five Orange Pips
Death Note, Vol. 7: Zero
Death Note, Vol. 1: Boredom
Death Note, Vol. 5: Whiteout
Death Note, Vol. 8: Target
Bleach Volume 01: Strawberry and the Soul Reapers
Death Note, Vol. 2: Confluence
A Study in Scarlet

Kabarlingga.com