Tuesday, January 22, 2013

Surat Cinta Kahlil Gibran



“Di lubuk hatiku,
altar cinta yang kupahat
 telah di tasbihkan oleh Tuhan
 dan masih tetap bertahan meski di hantam badai.”


Kahlil Gibran adalah seorang seniman, penyair, penulis   Lebanon Amerika. Beberapa karyanya yang terkenal antara lain : The Prophet, Broken Wings,  The Madman, dan sebagainya.
Salah satu wanita yang pernah mengisi perjalan cinta Gibran adalah May Ziadeh, seorang perempuan penulis Lebanon. Hubungan kesusastraan dan jalinan cinta antara keduanya bukanlah isapan jempol semata. Keduanya tidak pernah bertemu, dan saling mengetahui satu sama lain hanya lewat surat-menyurat. Hubungan yang tidak lazim, tapi begitulah seniman mempunyai cara hidup tersendiri. 

Berikut beberapa petikan surat Gibran yang ditujukan kepada May Ziadeh : 

1 November 1920
May kasihku 

May, jiwa tidak melihat apapun dalam kehidupan kecuali dalam jiwa itu sendiri. Ia tidak pula meyakini apa-apa selain urusan pribadinya sendiri. Bila ia mengalami sesuatu, maka apa yang dirasakan dan apa  dihasilkan menjadi bagian dari dirinya. Aku mengalami sesuatu tahun lalu yang ingin kujaga agar tetap menjadi rahasia, tapi aku tidak kuasa melakukannya.
Sesungguhnya aku membuka rahasia itu pada seseorang wanita yang biasa kuceritakan segala rahasiaku, sebab aku merasa begitu membutuhkan seseorang untuk kuajak bicara. Tapi engkau tahu apa yang dia katakan padaku?

Ia berkomentar  seakan tanpa berpikir , “ Apa yang kau ceritakan hanya tembang musikal, Gibran!” Coba renungkan, andai ada yang mengatakan pada seorang ibu yang menggendong bayi bahwa ibu itu sedang membawa patung kayu, maka apa yang menjadi jawabannya dan bagaimana perasaan si ibu?

Beberapa bulan telah berlalu dan kata –kata ( “tembang musikal” ) itu masih mengiang di telinga. Temanku itu ternyata belum juga puas dengan apa yang ia katakan dan terus menatapku sambil mengomentari setiap kata yang terucap dari bibirku. Ia  menyembunyikan yang berasal dari diriku sekaligus menusuk tangan ini dengan jarum setiap kali aku berupaya menyentuhnya. 

Akibatnya aku terperangkap putus asa, namun keputusasaan adalah air surut bagi gelombang pasang dalam hati manusia. Ia adalah kasih sayang sunyi. Karena alasan inilah aku duduk dihadapanmu akhir-akhir ini dan menatap wajahmu tanpa sepatah kata serta tidak memiliki kesempatan untuk menulis kepadamu, karena aku berkata pada hatiku, “Aku tidak punya kesempatan untuk itu.”

Dalam setiap musim dingin, ada geletar sanubari musim semi di balik tudung hitam, setiap malam ada seulas senyum sang  fajar. Kini keputusasaanku telah berubah menjadi harapan.

GIBRAN

Surat berikut ini, menceritakan Gibran yang melukiskan sosok dirinya kepada May Ziadeh
Surat untuk May Ziadeh
1920

Apa yang  akan kukatakan kepadamu bahwa ada seorang laki-laki yang dijerat Tuhan diantara dua perempuan. Yang satu membuat mimpi si laki-laki berubah menjadi kesadaran dan yang satunya justru membuat kesadarannya menjadi mimpi.

Apa yang akan  aku katakan padamu  bahwa ada seorang laki-laki yang telah ditempatkan Tuhan diantara dua lampu? Apakah menurutmu dia penuh kesenduan  ataukah bergelimang kebahagiaan?
Apakah lelaki itu orang asing di dunia ini? Aku tidak tahu jawabannya. Aku hanya ingin bertanya padamu,bila engkau berharap lelaki ini tetap menjadi orang asing yang bahasanya  tidak ada seorangpun di semesta ini memakainya.  Sekali lagi aku tidak tahu.

Aku hanya ingin bertanya padamu. Bila engkau sudi  berbincang dengan lelaki itu dalam bahasa lidahnya, sehingga engkau dapat memahami lebih baik ketimbang siapapun juga. Dalam dunia ini banyak dari mereka tidak mengerti bahasa jiwaku. Dan bukankah di dunia ini juga begitu banyak mereka yang tidak memahami bahasa jiwamu.

May, aku adalah orang yang dikaruniai banyak teman baik dalam hidup. Tetapi, katakan padaku, apakah pernah kita bilang kepada mereka, “Tolong bawakan bebanku ini sehari saja?”
Apa ada orang tahu bahwa ada sebuah lagu dibalik lagu – lagu kita yang tidak bisa  dinyanyikan dengan suara atau didendangkan dengan getaran dawai ?
Adakah orang yang melihat kegembiraan di dalam penderitaan kita atau melihat kepedihan di dalam kegembiraan kita ?

May, apakah engkau ingat, engkau pernah menceritakan kepadaku tentang seorang wartawan di Buenos Aires yang sangat mengharapkan sesuatu yang pasti setiap wartawan inginkan darimu, yakni segurat foto wajahmu?

Aku memikirkan permintaan sang jurnalis itu dan aku katakan pada diriku sepanjang waktu, “Aku bukan seorang wartawan, sebab itulah aku seharusnya tidak meminta apa yang wartawan minta. Bukan, diriku bukan seorang wartawan. Bila aku adalah pemilik atau editor   sebuah majalah atau Koran, aku akan terus terang dan tanpa malu-malu meminta fotomu. Bukan, aku bukan seorang wartawan. Lalu apa yanag kau lakukan?”

GIBRAN


Surat untuk May Ziadeh
1920

May Kasihku
Engkau mengatakan bahwa diriku  seorang seniman dan penyair. Tetapi  aku bukanlah kedua-duanya. Memang benar aku menghabiskan waktu hanya untuk menulis dan melukis, namun aku tidak sejalan dengan hari-hari yang kulewati. 

May, aku adalah segemulung awan-awan yang bercampur dengan segala anasir namun ia tidak pernah bersatu dengan semua itu. Aku adalah segemulung awan dan di dalam awan itulah kesendirianku, kesunyianku, lapar, dan dahagaku bersemanyam. Malapetaka yang aku rasakan adalah bahwa segemulung awan tersebut ternyata realitas   diriku sendiri. 

Diri yang rindu pada seseorang yang mengatakan “Engkau tidak sendirian di dunia ini, karena kita berdua bergandengan tangan dan akulah yang paling mengerti siapa dirimu.”

Katakan padaku May, adakah orang di ujung sana yang dapat dan ingin mengatakan pada diriku ,
“aku adalah segemulung awan yang lain. Wahai kawan mari bersama  kita menyelimuti gunung dan lembah. Mari kita berjalan di atas pepohonan. Mari kita tudungi bukit-bukit yang tinggi. Mari kita masuk ke bilik sanubari umat manusia.   Marilah kita menjelajahi tempat-tempat terpencil dan melindunginya.”

May, katakan padaku, apa ada orang yang mampu dan  mau mengatakan satu dari kata-kata itu?

GIBRAN

Sumber :
Gibran, Kahlil. Surat Cinta, judul asli : The Self Potrait,The Treasured Writings of Kahlil Gibran.2010.Yogyakarta : Cupid Media Grup.



No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi blog saya...
silahkan tinggalkan komentar anda, yang berhubungan dengan artikel yang dibahas.
No sara / pornografi.

Popular Posts

Favorite

Langitanisa's bookshelf: read

Naruto, Vol. 01: The Tests of the Ninja
Love in the Time of Cholera
Lust for Life
The Mysterious Howling
Misteri Lemari Antik
Absolute Boyfriend, Vol. 01
Famous Five 16: Five Go To Billycock Hill
With This Ring
Warm Bodies
Christmas Stories
Golden Book
The Invention of Hugo Cabret
The Five Orange Pips
Death Note, Vol. 7: Zero
Death Note, Vol. 1: Boredom
Death Note, Vol. 5: Whiteout
Death Note, Vol. 8: Target
Bleach Volume 01: Strawberry and the Soul Reapers
Death Note, Vol. 2: Confluence
A Study in Scarlet

Kabarlingga.com